Tampilkan postingan dengan label Seni dan Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Hiburan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Maret 2016 0 komentar

Barakah: Menggali Kemilau Tradisi

Tahun 2014, 2015, dan 2016 merupakan tahun-tahun yang produktif bagi Sami Yusuf. Setelah meluncurkan The Centre pada 2014 dan Songs of The Way pada 2015 lalu, musisi Inggris kelahiran Teheran ini kembali meluncurkan album di bawah label Andante Studios. Album ketujuhnya ini (kedelapan, jika kita memasukkan Without You yang masih dipersoalkan keabsahannya) diberi judul Barakah. Album ini memiliki track list sebagai berikut:

1. The Parties

2. Inna Fil Jannati

3. Hamziyya

4. Ya Rasul Allah 1

5. Ya Rasul Allah 2

6. Fiyashiyya

7. Ya Nabi

8. Ben Yururum Yane Yane

9. Araftul Hawa

10. Ya Hayyu Ya Qayyum

11. Taha

12. Asheqan

13. Barakah

14. The Iron

Berbeda dengan album-album sebelumnya, Barakah dimulakan dan diakhiri dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Di awal album kita akan mendengarkan seorang qari membacakan beberapa ayat surah Al-Ahzab, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai The Parties, dan di akhir album kembali dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an, kali ini beberapa ayat surah Al-Hadid yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai The Iron. Hal ini sepertinya menyesuaikan dengan tradisi komunitas Muslim yang biasa mengawali acara-acara resmi dan perkumpulan dengan bacaan Al-Qur’an.

Begitupun dengan keseluruhan track album ini, Sami Yusuf kali ini memilih untuk tidak melakukan sendiri proses kreatif penulisan lagu-lagu dalam keseluruhan album ini. Dalam album ini beliau mendendangkan lagu-lagu yang bersumber dari syair, nasyid, dan musik sufi yang sudah menjadi tradisi dan masyhur di peradaban-peradaban Islam. Sebut saja lagu Fiyashiyya yang merupakan qasidah tradisional yang populer di Maroko, Ben Yururum Yane Yane yang merupakan syair gubahan penyair sekaligus sufi Turki terkenal Yunus Emre, serta Araftul Hawa yang liriknya dinisbatkan kepada Rabi’ah Al Adawiyah.

Beragamnya tradisi yang menjadi sumber album ini juga menjadikannya sangat berwarna dalam hal musikalitas. Tidak seperti My Ummah yang kental nuansa pop Arab atau The Centre yang bernuansa Persia, lagu-lagu dalam album ini dinyanyikan dalam nuansa yang sangat beragam. Ketika mendengarkan senandung Ya Nabi kita akan disuguhi musik berirama India dengan lirik berbahasa Arab, sementara Ben Yururum Yane Yane akan mengingatkan kita pada irama musik yang biasa digunakan dalam pertunjukan tarian sufi atau whirling dervishes di semenanjung Anatolia. Susunan musik dalam album ini pun tidak begitu “berat” dan tidak menggunakan banyak alat musik strings seperti dalam album-album sebelumnya. Beberapa lagu bahkan dinanyikan secara acapella atau hanya menggunakan tabuhan rebana.

Di tengah tren seni Islam kekinian yang semakin mengikut arus budaya pop, album ini hadir layaknya angin segar. Barakah membuktikan bahwa seni Islam memiliki warisan-warisan tersendiri yang tersebar dari Andalusia hingga anak benua India. Ia hadir sebagai bentuk ekspresi kecintaan hamba pada Tuhan dan RasulNya, dengan bernafaskan budaya-budaya lokal, serta dapat dikemas dengan sangat bagus tanpa harus mengkompromikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Album Barakah dapat didengarkan di sini.
Kamis, 03 Maret 2016 0 komentar

Bajrangi Bhaijaan: Ketika Cinta Menerobos Sekat-sekat.

Seandainya seorang gadis cilik bisu yang berbeda agama, suku, ras, atau bangsa dengan engkau tiba-tiba berdiri di ambang pintumu, tersesat dan terpisah jauh dari orangtuanya, maukah engkau menolongnya, bahkan hingga mengantarnya pulang? Menjawab pertanyaan ini, mungkin banyak dari kita akan secara normatif menjawab “Iya dong, pastinya!” meskipun mungkin kenyataannya banyak dari kita yang seringkali enggan menolong hanya karena sekat-sekat prejudis yang timbul dari pelbagai perbedaan di atas. Nah, film ini berkisah tentang seorang laki-laki yang memilih untuk mendobrak sekat-sekat itu dengan menyeberangi perbatasan dua negara demi mengembalikan seorang gadis kecil yang tersesat dan terpisah amat jauh dari kedua orangtuanya.

Tersebutlah Pawan Kumar Chaturvedi (Salman Khan), seorang pria underachiever namun baik hati. Pawan adalah seorang Hindu yang memuja dewa Bajrangbali –atau biasa dikenal dengan dewa Hanoman- dengan ketaatan tanpa cela. Ketaatan pada Bajrangbali inilah yang menjadikannya pria yang sangat lurus dan jujur, pantang berbohong dan berbuat tidak jujur sekalipun. Di tempat lain, seorang gadis lima tahun bernama Shahida Rauf (Harshaali Malhotra) tinggal bersama kedua orangtuanya di perbukitan hijau desa Sultanpur, di daerah Kashmir yang masuk wilayah Pakistan. Dalam usianya yang lima tahun tersebut, Shahida belum bisa berbicara. Ibu Shahida pun memutuskan untuk membawanya berziarah ke makam wali Nizamuddin Awliya di Delhi untuk berdoa memohon agar Tuhan mengaruniakan Shahida kemampuan berbicara (mungkin semacam tradisi tawasulan atau tabarukan di Indonesia).

Cerita mulai bergulir ketika Shahida kecil terpisah dari ibunya dalam perjalanan pulang ke Pakistan. Nasib mempertemukannya dengan Pawan di Kurukshetra, sebuah daerah di India. Pawan yang lembut hati merasa iba dan membawanya ke Delhi bersamanya. Bersama Rasika (Kareena Kapoor Khan) calon istrinya, Pawan merawat Shahida tanpa mengetahui identitas lengkapnya. Setelah mengetahui bahwa Shahida adalah gadis Muslim asal Pakistan, Dayanand (Sharat Saxena), ayah Rasika sekaligus orang yang menampung Pawan selama tinggal di Delhi, menolak untuk mengizinkan Shahida tinggal di rumahnya. Situasi politik kedua negara yang tengah memanas membuat pengurusan visa dan paspor ditutup. Tak ada jalan lain, Pawan pun harus menerobos perbatasan demi mengembalikan Shahida kepada kedua orangtuanya. Ditemani Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui), seorang reporter Pakistan, Pawan Chaturvedi menempuh perjalanan menembus batas serta menghindari kejaran petugas sampai ke Kashmir wilayah Pakistan.

Wikipedia mengklasifikasikan film ini sebagai film drama-comedy. Klasifikasi yang tidak salah, karena memang di sepanjang film cukup banyak adegan-adegan yang mengundang tawa. Contohnya ketika Pawan yang kelewat jujur dan polos meminta izin dari petugas perbatasan setelah menyeberangi pagar besi secara sembunyi-sembunyi lewat terowongan. Belum lagi kelucuan yang timbul akibat perbedaan budaya dan agama, seperti Shahida yang tidak suka kare vegetarian yang disajikan istri Dayanand lari ke rumah tetangga yang beragama Islam demi bisa makan ayam. 

Sisi dramatis dalam film ini juga sangat heart-warming. mengajak kita untuk menerobos sekat-sekat perbedaan yang seringkali merintangi kita untuk sekedar berbuat baik kepada sesama manusia. Tokoh Pawan dalam film ini menggambarkan dengan apik bahwa cinta tidak melulu hadir atas dasar ketertarikan seksual, dan dapat mewujud dengan baik melalui sifat welas asih yang ditunjukkan Pawan kepada Shahida. Welas asih yang tidak memandang sekat-sekat Hindustan atau Pakistan, bersimpuh di masjid atau menunduk kepada patung Bajrangbali di kuil. Welas asih yang universal. 

Khazanah perfilman Bollywood seringkali dipandang sebelah mata oleh makhluk-makhluk Indonesia kelas menengah. Padahal, terkadang muncul juga film-fulm yang setelah menontonnya menyisakan berjuta bahan renungan. Bajrangi Bhaijaan ini salah satunya. Menontonnya membuat kita merenungi dan menelaah kembali mengenai keberagaman, apakah ia menjadi sumber keindahan atau justru menghalangi kita dari melihat rasa kemanusiaan dalam diri orang lain.    
Selasa, 03 November 2015 0 komentar

Rahasia Meede: National Treasure a la Indonesia.

Sebenanya sih, buku ini tidak bisa dibilang buku baru. Saya pertama kali membeli buku ini lebih dari lima tahun yang lalu. Waktu itu, masih berstatus sebagai mahasiswa baru Universitas Padjadjaran, saya membelinya dalam kunjungan perdana saya ke pusat perbelanjaan JATOS. Karena ulasannya yang cukup menarik dari para pakar, saya memutuskan untuk mencomotnya dari rak buku di Tisera Jatos. Ditambah lagi dengan desain sampul yang menurut saya sangat keren dengan lambang VOC ditulis besar-besar di tengahnya. Kayaknya sih bukan pembelian yang sia-sia.
                
Sayangnya, ketika pertama kali membelinya saya tidak bisa langsung membacanya dalam sekali sampai tiga kali duduk sebagaimana biasanya ketika saya membeli novel. Entah kenapa, belum ada seperempat jalan saya sudah kehilangan minat sama sekali terhadap novel itu. Mungkin karena ide yang diusung Rahasia Meede masih tergolong sangat berat bagi otak saya yang waktu itu masih polos. Maklum, baru lulus SMA, hehehe
                
Sampai lima tahun kemudian, berstatus sebagai mahasiswa semester dua digit yang belum lulus, perhatian saya kembali tertumbuk pada novel ini. Tadinya sih hanya berniat mencatat dan merapikan kembali buku-buku yang pernah masuk daftar belanja tapi belum selesai terbaca, namun novel ini kembali menerbitkan perasaan yang dulu pernah ada (apaan sih…) ketika melihatnya teronggok pasrah terselip di antara tumpukan buku-buku yang nyaris sama tuanya. Jadilah, akhirnya novel ini kembali terbaca dan terselesaikan dalam beberapa hari. Alhamdulillah...

* * * 

Novel ini ceritanya berpusat pada harta karun peninggalan zaman VOC yang rahasianya terkubur jauh di bawah perut bumi Indonesia. Cathleen Zweinckel, seorang peneliti berkebangsaan Belanda yang tengah menyelesaikan penelitian masternya di Indonesia mengenai harta karun VOC yang hilang, terlibat menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh Attar Malaka, tokoh organisasi klandestin Anarki Nusantara yang juga dituduh terlibat atas pembunuhan-pembunuhan tokoh-tokoh masyarakat. Mayatnya diletakkan di tempat-tempat berawalan huruf B. Di tempat lain, seorang prajurit TNI dengan nama sandi Lalat Merah berusaha memecahkan misteri penculikan ini sekaligus meringkus sang Attar Malaka. 

Novel ini bisa dibilang memadukan antara National Treasure-nya Nicholas Cage sama The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Sama seperti film National Treasure, novel ini juga melibatkan kisah pencarian harta karun dengan mengumpulkan petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan sejarah. Sementara itu, unsur thriller juga sangat kental dengan munculnya peristiwa-peristiwa pembunuhan yang sekilas mengingatkan kepada kisah-kisah Robert Langdon. 

Novel ini juga sangat piawai memadukan fakta-fakta sejarah dengan unsur-unsur fiksi. Pembaca akan dibawa kembali menelusuri Batavia masa VOC, revolusi kemerdekaan, sekaligus berkenalan dengan warna-warni budaya suku-suku Indonesia yang juga ditampilkan dengan sangat apik. Setting budaya dan tempat dalam novel ini memang sangat berwarna-warni. Pembaca akan  sejenak dibawa ke kepulauan Mentawai, Gugusan Kepulauan Pala, hingga Batavia di masa para Gubernur Jenderal berkuasa. 

Penarasian plot dalam novel ini juga penuh kejutan. Identitas karakter-karakter dalam novel ini seringkali ditampilkan dalam bentuk serpih-serpih yang kabur, sehingga pembaca akan diajak terkejut-kejut mengenai penyingkapan di akhirnya. Penuh surprise yang segar.

Selain itu, sisi unik dari novel ini adalah dialog serta deskripsinya yang banyak mengandung sarkasme atau sinisisme yang cukup pedas dalam mengkritik kultur masyarakat Indonesia. Mungkin ini salah satu poin yang tadinya membuat saya cukup jengah dan malas untuk membacanya di awal. 

Singkatnya, tidak berlebihan kalau novel ini disebut menyantak sastra Indonesia. Tidak banyak mungkin pengarang yang mampu memadukan thriller dan historical fiction seasyik ini. 

Syabas!  



       

                  
Senin, 19 Oktober 2015 0 komentar

Film 3: Ketika Distopia Merambah Film Indonesia

Jumat sore kemarin, mumpung habis gajian, tiba-tiba ada keinginan untuk sedikit nge-hedon dengan menonton film di bioskop dekat kosan. Dalam daftar film yang ditayangkan Bioskop 21 cabang Jatinangor Town Square hari itu bertengger beberapa film yang agaknya lumayan asyik untuk ditonton. Ada The Martian yang dibintangi Matt Damon, ada The Vatican Tapes yang ceritain tentang orang kesurupan (kayaknya), ada The Wedding and Bebek Betutu yang dibintangi pemain-pemain eks Extravaganza Trans TV.


Yang lumayan menarik perhatian adalah sebuah film berjudul 3. Tadinya agak skeptis karena track record sutradaranya yang sebelumnya menggarap film Coboy Junior dan Comic 8, dua film yang tema dan genre-nya sama sekali tidak  membuat saya tertarik. Ditambah lagi nama-nama karakternya yang dibikin seolah-olah Islami yang bikin saya berpikir:

"Halah, palingan ini film-film kayak yang sudah-sudah, yang ngejadiin relijiusitas sebagai barang dagangan." 

Cuman yang saya bikin agak tertarik adalah karena fakultas saya ngadain diskusi tentang film ini awal Oktober kemarin. Ditambah nama-nama pemeran utamanya yang lumayan kredibel (Agus Kuncoro, Abimana Aryasatya, dan Donny Alamsyah, misalnya), ditambah hadirnya kang Cecep Arief Rahman yang berperan sebagai The Assassin dalam The Raid 2: Berandal bikin saya tambah tertarik untuk nonton.

Seenggaknya, kalo ceritanya aneh, adegan laganya mudah-mudahan masih bisa dinikmatin, pikir saya. Maka, saya pun membeli tiket di baris kursi paling belakang Jumat sore itu. Sepi sih, tidak banyak yang nonton.

Ketika film dimulai, saya agak terhenyak: settingnya Jakarta tahun 2036 men! Setau saya, belum pernah ada satupun film Indonesia yang berani menampilkan latar Dystopian Future. Setting ini emang lagi marak di film-film Hollywood sono, The Hunger Games sama Divergent contohnya. Selain itu, setting budayanya juga rada unik plus absurd. Digambarkan saat itu Indonesia dipimpin oleh pemerintahan yang liberal tapi otoriter (?). Pasca huru-hara melawan kelompok-kelompok fundamentalis radikal, segala sesuatu yang berhubungan dengan agama secara ketat dilarang. Bahkan rumah-rumah ibadah dikonversi jadi gudang. Selain itu, teritorial Indonesia dibagi menjadi distrik-distrik, kayak di film The Hunger Games.

Tersebutlah ketiga orang anak manusia yang bersahabat sejak kecil: Alif, Lam (dari Herlam) dan Mim (dari Mimbo). Ketiganya adalah murid dari sebuah perguruan silat yang gurunya diperankan oleh kang Cecep Arif Rahman. Alif, yang orangtuanya dibunuh oleh kelompok radikal, memilih untuk menjadi aparat pemerintahan, detasemen khusus yang tugasnya menumpas para teroris, kriminal, dan pengacau. Lam memilih untuk berjuang lewat jalur jurnalistik demi mengungkap kebenaran. Sementara itu, Mim yang bercita-cita mati husnul khatimah lebih memilih untuk mengabdi di sebuah pesantren di Distrik 9.

Konflik film berpusar di antara ketiga tokoh utama ini. Pasca terjadinya sebuah pemboman di sebuah kafe, pemimpin pesantren tempat Mim mengabdi dijadikan tertuduh pelaku pemboman. Sementara detasemen Alif ditugaskan untuk meringkus dan menangkap sang kyai, Mim harus berhadapan dengan saudara seperguruannya sendiri demi melindungi kyainya. Idealisme Lam sebagai seorang jurnalis menuntutnya untuk mencari fakta-fakta di balik peristiwa itu, sekaligus mencegah terjadinya pertumpahan darah di antara kedua sahabatnya.

Selanjutnya, tonton sendiri aja ya!

Oke, kali ini akan saya bahas plus minus dari film ini.

Dari segi tema, film ini bisa dibilang menyajikan sesuatu yang  unik. Entah ada hubungannya atau enggak, film ini diproduseri oleh Arie Untung, artis sekaligus aktifis #IndonesiaTanpaJIL, sedangkan bertindak sebagai sutradara adalah Anggy Umbara, sineas sekaligus DJ dari kelompok Purgatory, yang dulu pernah berada dalam kelompok Berandalan Puritan, yang digawangi oleh Thufail Al-Ghifari. Di film ini, liberalisme ditampilkan sebagai suatu ancaman yang menekan hak asasi warga negara untuk beragama. Bisa jadi, nilai-nilai #IndonesiaTanpaJIL juga ikut mewarnai film ini.

Film ini juga diwarnai banyak adegan laga yang lumayan seru. Aksi baku perkelahian pemain disajikan dengan menarik meskipun tidak secadas film The Raid atau Berandal. Selain itu, film ini banyak menggunakan teknik slow motion untuk menampilkan detail dari gerakan-gerakan baku hantamnya. Belum seseru The Matrix atau The One-nya Jet Li sih. Tapi rasanya gerakan slow motion di film ini agak overdosis sih, dan malah mengurangi keseruan adegan-adegan baku hantam. Beruntung, musik pengiring bernuansa metal yang dibawakan oleh Purgatory cukup buat menambah bumbu kegaharan yang berkurang gara-gara kebanyakan slow motion

Ide sekuler vs. relijius di film ini serasa tidak lengkap karena hanya menampilkan pihak Islam saja. Padahal, di Indonesia ini ada bermacam-macam agama dan kepercayaan. Oke, mungkin karena Islam di sini juga dijadikan pihak yang dikambinghitamkan. Still, kayaknya kurang representatif kalo cuman satu agama yang ditampilkan. Padahal, agama apapun juga  memiliki komunitas-komunitas radikal yang bisa juga ditampilkan sebagai titik tolak dari premis utama film ini.

Untuk menyebut film ini film Islami, kayaknya rada masygul juga. Standar seberapa Islami sebuah film mungkin bisa berbeda-beda tiap penonton. Mungkin ada yang menganggap film Kingdom of Heaven-nya Ridley Scott sebagai film Islami karena menampilkan Salahuddin Al-Ayyubi dan orang-orang Muslim dalam pencahayaan yang positif. Di sisi lain, ada juga yang menganggap serial biopic Umar ibn Khattab yang dirilis MBC beberapa tahun lalu kurang Islami karena menampilkan sosok sahabat-sahabat Nabi, dan potongan-potongan dialog seperti "Demi Latta dan Uzza!"

That being said, adegan-adegan dalam film ini mungkin tidak bisa dibilang sepenuhnya Islami. Di sisi lain memang ada kesulitan tersendiri untuk membuat sebuah karya berbentuk film yang sepenuhnya sharia-compliant. Dari mulai tata busana, dialog, interaksi antar pemain lawan jenis, musik, dll. semuanya mesti masuk pertimbangan. Tapi film ini secara pesan memang kental bersumber dari naratif-naratif Islam, dan menjadikan relijiusitas komunitas Muslim sebagai salah satu tema besar yang diusung. Jadi, film ini bisa dikategorikan Islami atau tidak, it depends.

Pada akhirnya saya cukup sumringah karena akhirnya film Indonesia berhasil memunculkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, termasuk berani meng-handle tema-tema dan gaya naratif yang unik.

Syabas!
Rabu, 15 April 2015 0 komentar

Tjokroaminoto: Sebuah Ulasan

Poster film Guru Bangsa: Tjokroaminoto
Tanggal 9 April kemarin, mumpung masih tanggal muda dan anggaran masih ada, aku memilih untuk mengisi siangku untuk menonton film biografi (biopic) tentang Haji Umar Said Cokroaminoto, yang berjudul Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Berita mengenai akan diluncurkannya film ini sudah aku baca kira-kira seminggu sebelumnya, dan menonton trailernya membuatku cukup antusias karena aku sendiri cukup meminati sejarah dan menyukai film-film fiksi sejarah, baik film epik maupun film biografi. Apalagi dari deretan pemainnya banyak nama-nama yamg tidak bisa diremehkan, seperti Christine Hakim, Reza Rahadian, Chelsea Islan, dan Alex Abbad. Garin Nugroho, yang sebelumnya pernah menggarap biopic Soegijapranata, menjadi sutradara dari film berdurasi 160 menit ini.

Sayangnya, tidak semua pengunjung bioskop memiliki antusiasme yang sama. Ketika film ini tayang perdana di bioskop Jatos siang itu, kulihat penontonnya sedikit. Entah karena kalah populer dengan Fast and Furious 7 yang menjadi film terakhir Paul Walker yang juga tengah tayang, atau memang aku memilih waktu tayang yang masih terlalu awal. Yang jelas,di dalam studio 3 siang itu, hanya ada beberapa bangku yang terisi.

Reza Rahadian sebagai Cokroaminoto
Seperti judulnya, film ini berpusat di sekitar kehidupan Cokroaminoto, menggambarkan sejak masa Cokroaminoto kecil hingga pendirian Sarekat Islam dan masuknya pengaruh Komunisme di tubuh SI melalui Semaun, Darsono, dan Musso yang terpengaruh oleh Henk Sneevliet. Latar tempat dari film ini berada di sekitar Semarang, Jawa Tengah, dan Surabaya, Jawa Timur, sekitar akhir abad 19 dan awal abad 20.

Di film ini digambarkan juga beberapa tokoh yang ikut mewarnai sejarah Indonesia antara lain Semaun (Tanta Ginting), Agus Salim (Ibnu Jamil), dan Kusno/Soekarno (Deva Mahendra). Ada juga beber
apa tokoh lain yang belum pernah aku dengar namanya. Entah memang ada dalam kehidupan Cokroaminoto, ataukah hanya rekaan sebagai pelengkap cerita? Aku tak tahu. Tokoh-tokoh ini antara lain Stella (Chelsea Islan), gadis Indo-Belanda yang khawatir nasibnya akan tidak jelas di negara Indonesia yang menjelang proses persalinan itu; Abdullah Abdad (Alex Abbad), seorang Arab Yaman yang menjadi kakitangan Belanda; ada Haji Garut (Didi Petet) yang perannya cuma membacakan deklamasi diiringi tiupan seruling Sunda.

Film ini menurutku sangat bagus, karena selain menceritakan tentang salah satu babak pergerakan nasional bangsa kita, film ini disajikan dengan tata audio-visual yang menarik nan artistik. Misalnya di beberapa bagian ditampilkan keluarga Cokroaminoto yang menyanyi bersama diiringi iringan piano. Di bagian lain ditampilkan satu babak teater yang ditonton oleh Cokroaminoto.  Penataan artistik pada setting tempat pun terlihat sangat apik, contohnya setting rumah Peneleh tempat Cokro sekeluarga tinggal: Sebuah rumah berarsitektur Jawa lengkap dengan sebuah pendopo.


Chelsea Islan sebagai Stella
Dari segi akting, kombinasi aktor-aktor veteran dan para pendatang baru membuat kombinasi yang menarik. Reza Rahadian menurutku telah berhasil menangkap semangat berapi-api dalam sosok HOS Cokroaminoto dengan baik. Begitupun dengan tokoh-tokoh yang lain, yang menurutku berhasil memantulkan emosi dari tokoh-tokoh yang diperankan: Semaun, Musso, dan Darsono yang radikal dan tidak sabaran; Stella yang intelek dan penuh keingintahuan; Agus Salim yang seringkali berperan sebagai penengah; Kusno yang berapi-api, dll. Tokoh-tokoh pendukung di film itu pun berperan dengan apik dalam mendukung jalan cerita: mbok Tum yang cerewet; Bagong yang jenaka; sampai bapak-bapak penjual dingklik yang selalu bangga dengan dasi kupu-kupunya.

Film ini nampaknya ingin menyampaikan dua pesan yang mendasar, yaitu persatuan antar etnis dan anti radikalisme. Di film ini, Cokroaminoto digambarkan mengusahakan persatuan antara etnis Tionghoa dan Jawa, serta menjalin hubungan akrab dengan seorang kyai keturunan Yaman bernama Ibrahim Djamali. Jika dilihat dari perspektif historis, setidaknya menurut Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah, Belanda turut mengarsiteki terjadinya jurang pemisah antara kaum bumiputera dengan etnis Tionghoa dan Arab dengan menempatkan golongan Timur Asing (etnis Tionghoa dan Arab) sebagai warga kelas dua di bawah warga Eropa, dan di atas kaum bumiputera.  Dalam film ini, Cokroaminoto juga digambarkan menolak dengan tegas langkah-langkah radikal yang hendak dijalankan oleh pentolan-pentolan Marxis dalam tubuh Sarekat Islam. Beliau digambarkan dengan tegas menolak pengejawantahan ide-ide dalam bentuk revolusi fisik, yang diilhami oleh revolusi kaum Bolshevik di Rusia.

Pada akhirnya, sebuah film sejarah, baik berupa biopic atau film epik, sepatutnya tidak dimaknai sebagai visualisasi murni dari sejarah itu sendiri. Alih-alih, ia seharusnya dipandang sebagai sebuah interpretasi dari sekelompok pekerja seni, mulai dari sutradara, sampai penata suara, terhadap bagian-bagian yang ada dalam narasi sejarah. Pekerja-pekerja seni pun punya ideologi, yang sedikit banyak akan mempengaruhi dan mewarnai interpretasi sejarah yang tertuang dalam bentuk film. Dan toh, sejarah juga tidak monolitik dan terbuka atas berbagai cara dan jenis interpretasi.

Secara umum, film ini sangat bagus untuk ditonton seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak hanya generasi muda yang sering dituduh lupa sejarah dan kehilangan nasionalisme, namun juga generasi yang telah berumur, sebagai inspirasi nilai-nilai yang kelak dapat ditanamkan kepada penerus-penerus di bawahnya.  

 
;