Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Desember 2016 0 komentar

Jatinangor's Crimes Know No Mercy

Handphone-ku hilang.

Jadi, hari Jumat kemarin, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan aku kembali Jumatan di masjid kampus. Biasanya sih aku Jumatan di masjid kampus ITB, yang memang lebih dekat dari kosanku, tapi hari itu aku memutuskan untuk Jumatan di kampus. Rencananya, sebelum dan sesudah Jumatan aku ingin menggarap silabus dan handbook TOEFL di taman kampus FISIP dan sekitar sekre BEM.

But things turned out differently.

Setelah Jumatan, aku memutuskan untuk membeli beberapa potong roti dan sebotol air mineral sebagai makan siangku sebelum pergi ke taman FISIP untuk mengetik. Warung tempat aku beli itu memang cukup sesak. Ruangannya tidak memungkinkan untuk melayani lebih dari lima orang, kurasa. Apalagi orang-orang dengan volume tubuh sepertiku.

Siang itu, keadaan warung pun cukup sesak. Ada beberapa orang yang tengah berbelanja ketika aku datang. Akupun masuk, mengambil sebotol air mineral dan dua potong roti, kemudian membayar kepada bapak pemilik warung. Ketika berlangsung transaksi, aku merasakan sesuatu di dalam tasku, seperti ada yang membuka zipper-nya, akupun menjulurkan tangan kebelakang untuk memeriksanya. Tapi saat itu kupikir tidak ada apa-apa. Lagipula, mana mungkin orang mau mencuri di tengah keramaian Gerbang Lama seperti itu?

Ketika aku sampai ke taman FISIP, dan bersiap membuka laptopku, handphone Andromax R2 warna hitam metalik itu tiba-tiba kusadari raib dari kantong tasku. Hilang begitu saja.

Praktis, sepanjang siang hingga sore itu, rencanaku untuk bekerja gagal total. Selain shock, aku juga disibukkan dengan melacak gawaiku melalui Google Device Manager. Nihil, siapapun yang berhasil memegang gawaiku pasti sudah mematikannya. Jejak GPS di Google Maps hanya berujung di warung tempat aku berbelanja tadi.

Andromax R2 yang aku beli dari hasil mengajar berminggu-minggu itu lenyap digasak pencuri.

* * *

Meskipun Jatinangor memiliki banyak hal yang patut disyukuri, dalam hal kriminalitas tempat ini bisa dibilang cukup ngeri. Handphone, dompet, hingga motor sering jadi sasaran empuk para maling.
Banyaknya mahasiswa di tempat ini menjadikan ia semacam tambang emas bagi para kriminal berotak jahat. Mereka tak segan-segan membobol kamar kosan, bahkan melakukan kekerasan demi merampas benda-benda berharga. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita berjaga-jaga agar tidak menjadi korban.

Berikut beberapa tips yang bisa dipraktekkan supaya kita tidak menjadi sasaran:

1. Biasakan kunci kamar kos ketika bepergian keluar.

Kosan sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga sering jadi target utama. Karenanya, jangan pernah lupa mengunci kamar kosan ketika bepergian keluar, supaya tidak memberi peluang kepada para kriminal untuk beraksi. Jika ada pengaman tambahan seperti selot atau gerendel pintu, gunakanlah agar kemungkinan maling dapat membobol masuk jadi lebih kecil.

2. Jangan biasakan membuka jendela kamar ketika tidur atau istirahat siang.

Meskipun pintu kita sudah terkunci rapat, para penjahat tidak segan untuk mencoba membobol kamar dengan merogoh kunci melalui jendela yang terbuka lebar. Jika ingin membuka jendela untuk menyegarkan sirkulasi udara, pastikan kamu sedang di dalam, dan sedang dalam keadaan sadar sepenuhnya.

3. Parkirlah kendaraan di tempat yang disediakan, atau di area yang terdapat tukang parkir.

Beberapa tempat kos di Jatinangor memiliki posisi yang tidak strategis untuk kendaraan. Letaknya yang harus melewati gang-gang sempit membuat motor atau mobil tidak bisa masuk. Ini kadang membuat orang yang berkunjung memilih untuk memarkir kendaraannya di pinggir jalan Jatinangor. Hindari parkir sembarangan di pinggir jalan. Jika tidak memungkinkan untuk memarkir kendaraan di tempat yang mudah diawasi, parkirlah di tempat-tempat yang terdapat tukang parkir yang mengatur. Jangan lupa gunakan pengaman berlapis seperti kunci ganda, kunci dingdong, atau gembok ban.

4. Jika tidak ada yang bisa dititipi, bawa barang bawaan anda sendiri, awasi dengan hati-hati.

Adakalanya repot juga memang kalau harus bawa gendongan atau jinjungan ke mana-mana. Kadang kita butuh seseorang yang bisa dititipi barang ketika kita sedang butuh ke kamar mandi, misalnya. Kecuali kepada orang terdekat yang anda percayai, jangan gampang menitipkan barang berharga pada orang lain. Walau repot, tetap lebih aman membawanya sendiri walaupun orang yang anda titipi tidak berniat mencuri.

5. Jika anda pikir Masjid aman dari pencurian, pikir lagi.

Ironis memang, sebuah tempat di mana disebut dan dibacakan kalam Tuhan tetap tidak steril dari tindak pencurian. Memang begitu kenyataannya. Jika anda sedang shalat, taruh barang bawaan anda di tempat yang lagi-lagi gampang diawasi. Beberapa masjid menyediakan ruang di mihrab, di sebelah imam, sebagai tempat menyimpan barang bawaan. Beberapa yang lain menyediakan ruang antar shaf yang cukup lebar untuk sebuah ransel, jika demikian taruh ransel dalam posisi horizontal di depan batas sujud. Selain mudah diawasi, ransel juga dapat berfungsi sebagai sutrah. Jika tidak ada tempat di mihrab dan di sela-sela shaf, letakkan ransel atau bawaan dalam posisi vertikal di atas sajadah. Posisikan sedemikian rupa sehingga ketika sujud tubuh anda akan melingkupi barang bawaan tersebut, dan pastikan posisi barang bawaan tidak menyulitkan untuk duduk iftirosy atau tawarruk.

6. Ketika berada dalam situasi keramaian yang sesak, pegang barang berharga anda erat-erat, atau letakkan dalam posisi yang mudah dijangkau.

Ini yang harusnya aku lakukan kemarin, tapi yang sudah terjadi ya sudahlah. Intinya, ketika dalam posisi yang sangat crowded, pegang erat-erat barang berharga anda (dompet dan gawai, misalnya), atau taruh di tempat yang mudah dijangkau. Misal anda menggunakan ransel, gendong ransel tersebut di depan dada supaya lebih mudah dijangkau dan diawasi.

Secara teologis, apapun yang sudah terjadi pada diri kita hakikatnya sudah tercatat dalam takdir Tuhan, dan tidak ada seseorang atau sesuatu apapun yang dapat menghalangi jika kehendakNya sudah dititahkan. Namun, sebagai manusia tugas kita adalah berikhtiar, memilih cara-cara dan sarana supaya kita memperoleh takdir Tuhan yang terbaik.

Ketika sudah jadi korban, maka tugas kita adalah untuk bersabar. Jika dalam posisi belum menjadi korban (na'udzubillah), maka tugas kita adalah sebisa mungkin menghindar dan menjaga.

Stay safe.


   

Kamis, 20 Oktober 2016 0 komentar

Tidak begini, tidak begitu

Entah kenapa, semakin bertambah usia, aku semakin meyakini bahwa di dunia sekarang ini agak sulit untuk menilai segala sesuatunya secara hitam putih. Secara normatif, tentu saja, hitam dan putih seringkali diposisikan dengan garis batas yang jelas dan terang, namun pada kenyataannya banyak fenomena-fenomena di dunia ini yang belang: ada hitamnya, ada pula putih yang tersapu di sana-sini.

Njelimet ya? baik, aku beri sedikit ilustrasi supaya ada titik terang. 

Fenomena figur publik yang merokok, misalnya. Banyak orang setuju bahwa merokok adalah aktifitas yang mudharat. Selain asapnya yang menyimpan segunung bahaya kesehatan, aktifitas merokok bisa juga dipandang sebagai suatu pemborosan: membakar uang demi beberapa hisap nikotin yang meninggalkan jejak adiksi bagi para penikmatnya. Banyak pula orang setuju bahwa aktifitas ini tidak seharusnya ditiru, dan dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. 

Banyak dari kita setuju dengan poin-poin di atas. 

Nah, di awal pemerintahan presiden yang baru menjabat dua tahun ini, salah satu kontroversi yang mencuat adalah dilantiknya seorang menteri perempuan yang punya sisi-sisi yang "anti-mainstream", selain rekam jejaknya yang membuat orang mungkin berdecak kagum, ada satu sisi yamg dipandang sebagai sebuah cela: sang menteri adalah perempuan yang merokok. Hebohlah media massa seantero negeri. Termasuk di antaranya komentar dari seorang ustadz termasyhur yang mengatakan bahwa sang menteri tidak cocok jadi teladan. 

Seiring berjalannya waktu, sang menteri pun ternyata menunjukkan kebijakan-kebijakan yang direspon positif oleh publik. Ketegasannya dalam menghadapi para pencuri ikan di perairan Indonesia menjadi info hangat yang menghiasi corong-corong berita. Tato di kaki dan kebiasaan merokok tak lagi menjadi halangan untuk menghargai integritasnya. 

Nah, dari sini aku belajar bahwa mungkin ada kebaikan-kebaikan yang memiliki bercak-bercak hitam dan cela, sebagaimana ada keburukan yang mungkin masih ada sedikit cercah-cercah kesucian di dalamnya. Sang menteri mungkin punya cacat di sana-sini, namun bukan berarti kita tak bisa menghargai hasil kerja beliau yang profesional, bukan berarti pula kita memposisikannya sebagai teladan yang kita tiru bulat-bulat segala tindak-tanduknya.

Bisa dibilang, sikapku tidak begini, tidak pula begitu. Ada ruang-ruang kompromi di sana-sini. 

* * * 

Akhir-akhir ini, perhatian publik Indonesia banyak tersedot pada event lima tahunan, yang terjadi di satu wilayah kecil namun gaungnya sampai nyaris ke seluruh negeri. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tengah menjadi bahan obrolan panas di sana-sini, dari diskusi-diskusi di layar televisi hingga obrolan-obrolan santai di warung kopi. Tidak terkecuali jagat maya seluruh negeri yang disesaki berbagai opini.

Indonesia, yang disebut oleh Al-Jazeera sebagai The Social Media Capital, punya publik yang sangat responsif terhadap gonjang-ganjing apapun yang terjadi di media sosial. Nggak terhitung banyaknya isu-isu yang beberapa kali membuat media sosial bergolak, mulai dari sang menteri yang aku sebut di atas sampai persoalan "4 dikali 6 atau 6 dikali 4". Fasilitas yang disediakan media sosial berupa ruang bebas untuk bersuara menyebabkan retorika dan opini yang muncul pun begitu beragam.

Nah, di tengah riuhnya pertukaran opini ini, sikapku pun tidak berubah. Seringkali aku menyetujui pendapat di satu sisi, namun tidak menyetujui pendapat di sisi lainnya karena bisa jadi pendapat yang aku setujui punya titik-titik retorika yang cacat, atau pendapat yang tidak aku sepakati punya nilai kebenaran di lihat dari sudut yang lain.

Namun sepertinya, bagi para partisan, agak sulit untuk memiliki ruang kompromi. Bagi mereka, mungkin, semua pihak yang berseberangan dengan apa atau siapa yang mereka perjuangkan harus dilihat secara total sebagai lawan atau musuh; tidak ada sedikitpun ruang untuk melihat kebaikan mereka.

Begitupun dengan para pihak yang menyuarakan kesetujuan terhadap opini-opini mereka, seringkali tidak ada ruang untuk melihatnya dalam kacamata yang lebih kritis. Tidak sedikit contoh di mana para partisan menyebarkan informasi yang mendukung cause mereka namun kemudian informasi tersebut terbukti hoax atau misinformasi. Sudah kepalang tersebar, nggak bisa ditarik lagi. Malu jadinya.

Mungkin tidak banyak juga yang berpikir sepertiku, bahwa bersikap hitam putih dalam hal dukung-mendukung dan menyikapi isu-isu politik bisa jadi bukan sikap yang tepat. Politik adalah masalah siasat, kadang-kadang siasat itupun mengharuskan para pelaku politik untuk bersikap fleksibel, untuk tidak mengatakan plin-plan. Kadang-kadang, ide atau ideologi yang membuat kita mendukung suatu sosok atau kelompok politik tertentu harus dibengkokkan demi mencapai kepentingan tertentu. Bahasa beratnya, pragmatis. 

Makanya, menurutku sih nggak perlu ekstrim-ekstrim amat mendukung atau memusuhi pihak politik tertentu. Kata peribahasa itu, tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan. Mungkin terlalu simplistik, tapi bisa jadi ada benarnya. Kita nggak pernah tahu sampai kapan sosok atau kelompok yang kita dukung akan tetap dalam pendiriannya. Dan kita juga nggak tau sampai kapan sosok dan kelompok yang kita selisihi akan berdiri di atas sesuatu yang tidak kita sepakati. Sepanjang ada kepentingan, semua itu bisa saja berubah-ubah.

Apalagi kalo kita harus mengorbankan keakraban dengan kerabat dan sahabat hanya karena kurang fleksibel dalam hal dukung-mendukung figur politik.

Ah, sayang sekali. Dunia terlalu indah untuk sekadar dibikin ribut-ribut urusan pilkada.

Jangan gitu-gitu amat, ah. 
Kamis, 03 Maret 2016 0 komentar

Bajrangi Bhaijaan: Ketika Cinta Menerobos Sekat-sekat.

Seandainya seorang gadis cilik bisu yang berbeda agama, suku, ras, atau bangsa dengan engkau tiba-tiba berdiri di ambang pintumu, tersesat dan terpisah jauh dari orangtuanya, maukah engkau menolongnya, bahkan hingga mengantarnya pulang? Menjawab pertanyaan ini, mungkin banyak dari kita akan secara normatif menjawab “Iya dong, pastinya!” meskipun mungkin kenyataannya banyak dari kita yang seringkali enggan menolong hanya karena sekat-sekat prejudis yang timbul dari pelbagai perbedaan di atas. Nah, film ini berkisah tentang seorang laki-laki yang memilih untuk mendobrak sekat-sekat itu dengan menyeberangi perbatasan dua negara demi mengembalikan seorang gadis kecil yang tersesat dan terpisah amat jauh dari kedua orangtuanya.

Tersebutlah Pawan Kumar Chaturvedi (Salman Khan), seorang pria underachiever namun baik hati. Pawan adalah seorang Hindu yang memuja dewa Bajrangbali –atau biasa dikenal dengan dewa Hanoman- dengan ketaatan tanpa cela. Ketaatan pada Bajrangbali inilah yang menjadikannya pria yang sangat lurus dan jujur, pantang berbohong dan berbuat tidak jujur sekalipun. Di tempat lain, seorang gadis lima tahun bernama Shahida Rauf (Harshaali Malhotra) tinggal bersama kedua orangtuanya di perbukitan hijau desa Sultanpur, di daerah Kashmir yang masuk wilayah Pakistan. Dalam usianya yang lima tahun tersebut, Shahida belum bisa berbicara. Ibu Shahida pun memutuskan untuk membawanya berziarah ke makam wali Nizamuddin Awliya di Delhi untuk berdoa memohon agar Tuhan mengaruniakan Shahida kemampuan berbicara (mungkin semacam tradisi tawasulan atau tabarukan di Indonesia).

Cerita mulai bergulir ketika Shahida kecil terpisah dari ibunya dalam perjalanan pulang ke Pakistan. Nasib mempertemukannya dengan Pawan di Kurukshetra, sebuah daerah di India. Pawan yang lembut hati merasa iba dan membawanya ke Delhi bersamanya. Bersama Rasika (Kareena Kapoor Khan) calon istrinya, Pawan merawat Shahida tanpa mengetahui identitas lengkapnya. Setelah mengetahui bahwa Shahida adalah gadis Muslim asal Pakistan, Dayanand (Sharat Saxena), ayah Rasika sekaligus orang yang menampung Pawan selama tinggal di Delhi, menolak untuk mengizinkan Shahida tinggal di rumahnya. Situasi politik kedua negara yang tengah memanas membuat pengurusan visa dan paspor ditutup. Tak ada jalan lain, Pawan pun harus menerobos perbatasan demi mengembalikan Shahida kepada kedua orangtuanya. Ditemani Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui), seorang reporter Pakistan, Pawan Chaturvedi menempuh perjalanan menembus batas serta menghindari kejaran petugas sampai ke Kashmir wilayah Pakistan.

Wikipedia mengklasifikasikan film ini sebagai film drama-comedy. Klasifikasi yang tidak salah, karena memang di sepanjang film cukup banyak adegan-adegan yang mengundang tawa. Contohnya ketika Pawan yang kelewat jujur dan polos meminta izin dari petugas perbatasan setelah menyeberangi pagar besi secara sembunyi-sembunyi lewat terowongan. Belum lagi kelucuan yang timbul akibat perbedaan budaya dan agama, seperti Shahida yang tidak suka kare vegetarian yang disajikan istri Dayanand lari ke rumah tetangga yang beragama Islam demi bisa makan ayam. 

Sisi dramatis dalam film ini juga sangat heart-warming. mengajak kita untuk menerobos sekat-sekat perbedaan yang seringkali merintangi kita untuk sekedar berbuat baik kepada sesama manusia. Tokoh Pawan dalam film ini menggambarkan dengan apik bahwa cinta tidak melulu hadir atas dasar ketertarikan seksual, dan dapat mewujud dengan baik melalui sifat welas asih yang ditunjukkan Pawan kepada Shahida. Welas asih yang tidak memandang sekat-sekat Hindustan atau Pakistan, bersimpuh di masjid atau menunduk kepada patung Bajrangbali di kuil. Welas asih yang universal. 

Khazanah perfilman Bollywood seringkali dipandang sebelah mata oleh makhluk-makhluk Indonesia kelas menengah. Padahal, terkadang muncul juga film-fulm yang setelah menontonnya menyisakan berjuta bahan renungan. Bajrangi Bhaijaan ini salah satunya. Menontonnya membuat kita merenungi dan menelaah kembali mengenai keberagaman, apakah ia menjadi sumber keindahan atau justru menghalangi kita dari melihat rasa kemanusiaan dalam diri orang lain.    
Senin, 29 Februari 2016 0 komentar

Insiden (In)sensitif Ahad Pagi

Hari Minggu yang redup.

Bangunan itu terlihat sepi, sebuah warung kopi tempat aku berencana menghabiskan sarapanku pagi itu. Dua bangku panjang yang biasanya disesaki para pengunjung saat itu melompong, menyisakan banyak ruang kosong. Akupun masuk dan memesan makanan, lalu mengambil tempat di sudut dekat pintu masuk.

Dari speaker aktif yang dipasang di warung tersebut terdengar suara laki-laki sedang berceramah. Rupanya tengah diputar sebuah audio ceramah yang berformat conversion story, kisah pengalaman hidup seseorang yang dahulunya seorang Kristen kemudian masuk Islam. Volume speaker yang disetel keras-keras membuat ceramah yang tengah diputar itu mungkin bisa terdengar sampai luar.

Akupun memasang earphone di telinga, playlist di telepon genggamku tengah memainkan qasidah gubahan Rumi yang dinyanyikan oleh Sami Yusuf diiringi hentakan rebana dan petikan tanbour. Akupun mulai membaca buku kumpulan cerpen yang aku bawa untuk menemani aktifitas sarapan pagiku saat itu.

Aku tidak tertarik sama sekali dengan ceramah agama yang tengah diputar.

Bukannya aku tidak suka mendengarkan ceramah. Di komputer pribadiku pun tersimpan beberapa folder audio ceramah, dan setahuku akupun tidak pernah tidur tiap khotbah Jum'at. Akan tetapi, memang tidak pernah tertarik dengan ceramah berformat conversion story yang dituturkan orang-orang yang katanya para mantan pemuka agama tetangga. Dengan segala hormat, berbeda dengan kisah masuk Islamnya para abang-abang bule yang biasanya sarat renungan eksistensial mengenail tujuan hidup manusia, kisah masuk Islamnya para mantan pemuka agama yang banyak beredar di Indonesia rata-rata hanya berisi cercaan-cercaan terhadap agama yang dulu dianutnya.

Bahasa gaulnya, jelek-jelekin mantan, dalam hal ini mantan agamanya. Begitupun dengan ceramah yang saat itu tengah diputar, sang lelaki yang tak terlihat wajahnya itu tengah memaparkan borok-borok yang ada di agama lamanya.

Sebagai pemeluk agama, aku juga percaya pada salvific exclusivity yang ada di agamaku, yaitu keyakinan bahwa yang aku peluk saat ini adalah jalan keselamatan satu-satunya. Meskipun, pada dasarnya selamat atau tidak selamat itu hak mutlak Tuhan untuk menentukan. Di sisi lain, aku juga percaya pada golden rule yang menyatakan bahwa "perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan". Dalam hal ini, sebagai seorang Muslim yang ingin dihormati sensitifitasnya, aku juga cenderung untuk menjaga sensitifitas pemeluk agama lain.

Maka aku tidak sepakat kalau harus memutar audio conversion story dengan konten provokatif di area publik, keras-keras pula.

Mie goreng telur di mangkokku sudah habis setengahnya, dan uap yang tadinya mengepul dari gelas kopiku sudah tinggal segaris tipis ketika serombongan orang memasuki warkop. Suasana yang tadinya lengang jadi penuh sesak setelah sepasang suami istri dan dua anaknya, seorang wanita sepuh, serta dua orang lelaki menyerbu masuk. Mereka memenuhi ruang-ruang kosong dua bangku panjang itu.

Sekilas aku melihat raut ketidaknyamanan di wajah si ibu muda itu, kenapa ya?

Beberapa saat kemudian aku menemukan jawabannya: sang wanita sepuh terlihat mengenakan sebentuk rosario, untaian manik-manik yang diujungnya terdapat bandul salib kecil yang di atasnya terdapat ukiran seorang lelaki yang diyakini sebagian orang sebagai Yesus.

Aku menelan ludahku yang mendadak terasa kecut. Mereka orang-orang Kristen.

Di tengah jeda senandung-senandung qasidah yang memenuhi rongga telingaku, aku memperhatikan bahwa ceramah tersebut kini berhenti, dan untungnya tidak terjadi keributan atau semacamnya. Mereka menikmati sarapan mereka sambil mengobrol dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Hentakan rebana, petikan tanbour dan santur, maupun tiupan nay yang menggetarkan rongga telingaku tak bisa menghempas segulung perasaan yang menyelimutiku saat itu. Sebuah perasaan yang mungkin kurang tepat juga jika dipadankatakan dengan "canggung":

Awkward.      

Ah, aku harap ketidaknyamanan itu tidak mengendap dan berubah menjadi prasangka, dan semoga kita bisa belajar untuk saling menjaga sensitifitas.
Selasa, 02 Februari 2016 0 komentar

Sekelumit Refleksi tentang Hijrah

Siang itu, aula gedung B tidak seramai biasanya. Ruang ini biasa digunakan untuk kuliah-kuliah umum lintas kelas, bahkan lintas program studi. Jika sedang mencapai titik puncaknya, ruang itu bisa disesaki ratusan mahasiswa yang menimbulkan dengungan riuh rendah yang ditimbulkan beragam aktifitas: ada yang duduk bergerombol sambil ngerumpi dengan geng-nya, ada yang menyumpal lubang telinganya dengan earphone, ada yang tengah sibuk mengerjakan tugas untuk mata kuliah selanjutnya, dan biasanya masih ada juga yang betul-betul menyimak penjelasan dosen dengan seksama.

Tetapi siang itu, keramaian yang biasa menghangatkan ruangan besar ini seolah diredam. Mungkin karena penghuninya yang tidak sebanyak biasanya, mata kuliah yang menarik, atau mahasiswa-mahasiswa yang memilih bersikap hormat (untuk tidak mengatakan kasihan) kepada dosen senior yang tengah menerangkan materi hari itu dan memutuskan untuk tidak membebani sarafnya dengan kemarahan yang disebabkan oleh mahasiswa-mahasiswa miskin etika yang tidak memperhatikan.

“Pelan-pelan aja ‘kan ya Ul?” tanya sosok berkerudung biru muda yang duduk beberapa kursi di sampingku. Suaranya hanya satu atau dua tingkat lebih keras dari bisikan, tapi aku bisa merasakan kegamangan yang mencekat jalan nafas di tenggorokannya. Kepalanya dan sorot pandangnya tertunduk menghujam bumi ketika aku menoleh ke sumber suara.

Gadis di sampingku ini tengah dilanda kebingungan. Pasalnya, salah satu sahabatnya memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi anggota organisasi keislaman di kampus, dan sang sahabat mengajaknya untuk ikut serta. Ia mengiyakan walau dengan berat hati, agaknya. Menurut kisahnya padaku, ia belum siap jika kemudian harus berubah gaya hidupnya secara drastis. Ia tak sepenuhnya siap untuk berhijrah, dan menganggapnya sebagai langkah yang terlalu besar dan berat.

Ketakutan yang agak aneh dan tak berdasar, menurutku. Gadis itu aku kenal sebagai seorang Muslimah yang, setahuku sih, menjalankan agamanya. Tiap hari ia, berpakaian yang menutup kepala sampai kaki, dan hanya menyisakan wajah dan telapak tangannya yang terlihat: kombinasi kerudung, kemeja lengan panjang, dan rok panjang yang selalu ia pakai tiap kuliah. Secara tampilan luar, ia mungkin kompatibel dengan julukan akhwat (menurut pengertian yang politically correct tentunya, bukan seperti pengertian yang terdapat pada label WC Akhwat di masjid-masjid) yang populer di kalangan dakwah kampus. Menurutku sih, ia akan dengan mudah di terima di organisasi dakwah di kampusku sebagai one of them.

Tapi toh rasa tidak layak tetap jauh lebih baik daripada rasa self-righteous, tinggi hati yang timbul dari rasa lebih baik dari orang lain. Bukankah ini yang akhirnya menjebloskan Iblis hingga ia dan keturunannya dikutuk oleh orang beriman hingga akhir zaman? Setidaknya sosok di sampingku ini tahu bahwa, secara manusiawi, ia punya salah dan dosa yang mungkin masih membebaninya untuk berhijrah.

Jadi, setelah sejenak berpikir dan menghela nafas, akupun menjawab dengan suara tak kalah perlahan.

“Iya, pelan-pelan aja.”

* * * 

Hijrah

Secara tradisional, kata ini merujuk kepada peristiwa emigrasi sejumlah besar pengikut Nabi Muhammad dari Makkah ke Yatsrib demi menghindari penindasan Quraisy. Emigrasi besar-besaran ini menjadikan Yatsrib sebagai pusat konsolidasi dan ibukota negara Islam sampai masa empat khalifah awal, serta melahirkan dua kelas sosial yang terdapat pada komunitas Muslim saat itu: Muhajirin, yaitu orang-orang Quraisy yang beremigrasi dari Makkah; serta Anshar, yaitu penduduk Yatsrib yang membantu serta menerima para emigran Makkah dengan tangan terbuka. Peristiwa ini juga menjadi penanda awal tahun Hijriah atau Anno Hegirae, penanggalan Islam yang didasarkan pada peredaran bulan.

Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, kata “hijrah” bermakna 1 n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; 2 v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya);

Hijrah dalam konteks tulisan ini adalah proses keberagamaan di mana seseorang yang tadinya tak begitu saleh memutuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih relijius, biasanya disertai juga dengan meninggalkan kehidupan dan lingkungan lamanya yang tidak kondusif untuk perkembangan spiritualnya. Dalam hal ini perpindahan yang terkandung dalam sense kata “hijrah” dimaknai secara metaforis sebagai perpindahan dari fase kehidupan yang tidak begitu Islami menjadi kehidupan yang lebih relijius serta berupaya agar lebih dekat kepada Tuhan. Fenomena ini cukup marak terjadi pada beberapa artis dan selebritis Indonesia, misalnya almarhum Gito Rollies, Sakti Sheila On 7 (yang belakangan berganti nama menjadi Salman Al-Jugjawy) atau Noor “Ucay” Al-Kautsar, mantan personil Rocket Rockers.

Hijrah juga menjadi tema sentral dari beberapa karya seni Islami yang beredar di Indonesia. Masih ingat film dan serial TV Kiamat Sudah Dekat? Film ini mengisahkan perjalanan spiritual Fandy, vokalis band Dongkoll yang memutuskan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih rajin beribadah setelah bertemu dan jatuh cinta dengan Sarah, puteri Haji Romli. Novelet laris Ketika Mas Gagah Pergi tulisan Helvy Tiana Rosa juga mengangkat tema yang sama: perjalanan spiritual Gagah, seorang lelaki muda yang berubah menjadi lebih alim, dan konfliknya dengan Gita sang adik perempuan. Pun, jika kita membaca serial Elang karya Afifah Afra, kita akan mendapati denyut-denyut nadi yang senada: seorang pemuda yang tadinya acuh soal agama, tiba-tiba menjelma menjadi sosok seperti dalam lirik lagu pembuka serial Si Doel Anak Sekolahan, yang kerjaannye sembayang mengaji.

* * *

Jujur, tadinya aku iri juga rasanya dengan mereka-mereka yang menjalani proses perpindahan metaforis ini. Aku sendiri dilahirkan dalam keluarga yang taat beragama, dan sejak kecil pun aku dididik untuk menjadi sedemikian. Sejak Taman Kanak-kanak aku disekolahkan di sekolah Islam, dan satu-satunya pendidikan dasar dan menengah non-relijius yang pernah aku alami hanya saat Sekolah Menengah Pertama. Begitupun ketika kuliah, organisasi satu-satunya yang menjadi tempatku pernah terdaftar menjadi anggota adalah organisasi masjid fakultas. Pendeknya, segala hal yang berbau relijius sama sekali bukan hal yang asing buatku.

Tunggu, aku sama sekali tak bermaksud untuk tidak bersyukur. Tidak, aku bukannya sedang tidak berterima kasih terhadap apa yang dilakukan oleh keluarga dan lingkunganku dalam upaya menjadikanku pribadi Muslim yang baik. Itu semua mereka lakukan agar hidupku terarah mengikut garis panduan yang diturunkan Tuhan kepada Rasul terakhirNya, dan aku bersyukur atas itu semua. Hanya saja, semakin bertambahnya usia aku semakin belajar bahwa pengalaman relijius adalah pengalaman yang sifatnya personal. Ianya tidak seperti percobaan sains yang bisa direplikasi untuk memperoleh hasil yang sama. Masing-masing kita menempuh jalan spiritual kita sendiri-sendiri.

Bukankah hati tiap manusia itu unik? Tiap anak Adam adalah satu jenis dirinya sendiri, dan tidak ada dirinya yang lain. Konsekuensinya, pengalaman keagamaan sebagai pengalaman yang intens dan sangat melibatkan hati dan rasa, menurutku sih, juga sangat personal dan unik sifatnya. Jadi, sebenarnya yang aku rindukan hanya pengalaman spiritual yang orisinil, genuine, serta organik. Pasalnya, aku merasa bahwa yang selama ini aku lakukan hanya mengikuti langkah-langkah orang lain, atau menuruti perintah orang-orang lain. Intinya, aku merasa bahwa, dalam beberapa titik, aktifitas relijius yang aku lakukan seolah menjadi hanya taken for granted. Sering tidak ada getaran-getaran hati di dalamnya.

Kadang-kadang bertanya-tanya juga: bagaimana sih rasanya melakukan ibadah seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang tadinya berjarak dengan Tuhan, kemudian kembali melaksanakan ruku' dan sujud seolah-olah untuk pertama kalinya?

Tapi kemudian aku tersadar bahwa aku toh tidak sesaleh yang aku kira. Bukankah dalam perjalanan spiritualnya, jalan yang ditempuh seorang hamba sering tidak mulus dan lempeng begitu saja? Sering ada sandungan, naik, bahkan turun ("menjadi Futur adalah hal yang tidak terhindarkan" kata ustadzah Yasmin Mogahed) ketika hati lebih condong kepada kemaksiatan. Aku toh tidak lebih sempurna dari mereka-mereka yang dulunya jauh dari Tuhan. Sebagai manusia, aku juga memiliki banyak hal yang masih perlu untuk diperbaiki. Aku juga masih sering malas-malasan ketika shalat, merasa berat dalam membaca Qur'an walau hanya selembar dua lembar, mata tak tertunduk yang menyasar ke mana-mana, perut yang di isi berdasar panduan nafsu, dll. 

Bukankah itu semua juga menjadi peluang bagiku untuk Hijrah, berpindah dari ketidaktaatan menuju upaya-upaya kesalehan dengan memperbaiki kesalahan-kesalahanku sebagai hamba yang sering lalai? Mungkin juga ini bisa menjadi perantara bagiku untuk menghadirkan kembali Tuhan dalam getaran-getaran hati, melalui perbaikan-perbaikan diri, taubat yang tak putus-putus, serta doa yang tak pernah berhenti terpanjatkan dalam kesadaranku sebagai manusia yang penuh salah. 

Ah, mungkin aku yang salah memaknainya. Mungkin Hijrah tidak melulu sebuah perubahan yang drastis dan overnight. Bisa jadi, ianya adalah sebuah proses perbaikan dan penyucian diri yang berujung ketika Malaikat Maut mengetuk pintu kita. Mungkin juga, perbedaan dari aku dan seorang selebritis glamor yang tadinya tak pernah beribadah hanyalah masalah titik mula. Pada hakikatnya kita tengah menapaki jalan yang sama, berharap untuk dapat menatap wajah Tuhan yang sama. 

Allahu a'lam   


Kamis, 24 Desember 2015 0 komentar

Modus Pengemis Dramatis

Minggu pagi. Ketika itu aku tengah duduk bersila di basement Masjid Raya Padjadjaran, atau biasa dikenal juga dengan Bale Aweuhan. Mataku tengah beradu dengan layar laptop yang memancar tidak begitu terang. Dari belakang laptop itu mengekor seutas kabel yang terhubung ke sebuah power outlet yang menempel pada tiang putih. Di depanku terpampang halaman Microsoft Word dengan kursor berkedip-kedip. Ketukan-ketukan jemari di atas papan tuts tidak terdengar oleh telingaku yang tersumpal oleh earphone kecil. Aku tengah mengerjakan skripsi di lantai paling dasar masjid kampus ketika sesosok lelaki tambun berkopeah mendekatiku dengan wajah muram.

"Kuliah di sini dek?" Tanyanya berbasa-basi. Akupun mengiyakan. 

"Semester berapa?" tanyanya lagi. Ini jenis pertanyaan sensitif yang tidak begitu aku sukai. 

"Lagi skripsi pak," jawabku sambil tersenyum. 

"Oh, semoga cepet selesai ya," katanya dalam bahasa Sunda. 

"Gini dek, bapak mau minta tolong, boleh enggak?" dia bertanya lagi. Setelah aku bertanya apa yang jadi hajatnya, dia menjelaskan. 

"Mau enggak dek bantu bapak supaya enggak murtad. Bapak mau beli kitab Shahih Bukhari, harganya Rp. 240.000. Bisa bantu bapak enggak dek?"

Well, that escalated quickly. Dari nanya-naya semester berapa, tiba-tiba malah jadi ke masalah murtad. Lagipula, mau murtad atau tidak, itu 'kan ujungnya ada di pilihan dia. Kenapa tiba-tiba urusannya jadi minjem duit? Dan, oh, kalo orang mau murtad berarti bisa disimpulkan imannya lagi down. Tapi...membaca Shahih Bukhari sendirian, tanpa guru, itu mah harusnya udah level orang alim yang imannya minimal enggak gampang goyah!

Berjuta pertanyaan meletup di kepala, tapi aku sudah terlampau hapal. Ini sih model-model pengemis dramatis yang suka berkeliaran di sekitar Bandung - Jatinangor. Dengan sopan, permintaannya kutolak. 

"Maaf pak, enggak ada. Kemarin uang saya habis buat servis laptop," kataku. Sehari sebelumnya memang aku membeli charger laptop baru yang membuat rekeningku tersedot. Aku tidak sedang berbohong. 

"Kalo gitu bapak pinjem dua puluh ribu aja dek, buat pulang," hibanya dengan suara agak memelas. "Kaki bapak patah dek, dari tadi cari pinjaman sampai ke Cicalengka enggak dapet," kemudian ia menyingkap betisnya yang dibebat perban cokelat. 

Perasaan tadi pas dia jalan mendekat sama sekali enggak pincang, batinku.

Lagipula, dia tidak memakai tongkat berjalan. Padahal, untuk sampai ke basement masjid kampus harus menuruni anak tangga. Gimana caranya orang patah kaki turun anak tangga tanpa tongkat berjalan?

Aku berkeras menolak, meski dengan halus, tapi si bapak berkopeah meuni keukeuh. Tampaknya ia tidak akan enyah sebelum isi dompetku bertransmigrasi ke sakunya. 

"Kalo gitu berapa aja deh dek, buat nengokin anak bapak yang gegar otak." 

Tadi mau murtad, trus kaki patah, terakhir anak gegar otak. Kenapa dalam jangka waktu kurang dari sepuluh menit keluhannya berubah-ubah dan beraneka ragam? 

"Hapunten pak, enggak ada," timpalku sehalus mungkin dengan senyum yang berusaha lebih manis dari model iklan pasta gigi. Aku memang bukan orang yang suka konflik terbuka, jalan yang sering aku pilih adalah dengan menjadi pasif-agresif. 

"Oh, gitu...ya udah deh, Assalamualaikum." Si bapak tambun berkopeah pamit undur diri, meninggalkanku yang geleng-geleng kepala sambil nyengir kuda. 

* * * 

Sebelum dihakimi massa sebagai orang yang tidak berperikemanusiaan dengan menolak permintaan tolong orang lain, aku jelasin ya: itu semua cuma modus!

Iya, cuma modus. Sudah bukan sekali-dua kali aku ketemu dengan orang-orang semacam si bapak kopeah tadi. Pertama kali aku berhadapan dengan sosok pengemis dengan cerita mengenaskan adalah sekitar tahun 2010, zaman-zaman masih jadi mahasiswa lugu. Ketika itu aku baru saja menyelesaikan shalat Dzuhur di Masjid Ibnu Sina ketika seseorang mendekatiku dan menceritakan tentang anaknya yang tengah sakit keras. Dia butuh uang untuk biaya pengobatan anaknya, katanya. Jadi ya aku berikan sekedar selembar yang ada di sakuku waktu itu. 

Pernah juga seorang ibu-ibu mengetuk pintu kamar kosanku menjelang tengah malam. Dia diturunkan dari angkutan umum, katanya. Malam-malam, enggak bisa pulang, butuh uang. Waktu itupun aku masih mau membantu walau enggak banyak. 

Sampai akhirnya, aku tahu kalau kisah-kisah ketiban sial tadi hanya tipuan demi mendapatkan rupiah. Pasalnya, orang yang pertama kali menipuku di masjid Ibnu Sina tadi suatu kali bertemu lagi denganku, dan dia masih menceritakan kisah kemalangan yang persis sama. Di situ aku mulai curiga. 

Sepertinya ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kemalangan. Ini agaknya masalah mata pencaharian. 

* * * 

Tunggu.

Bagiku menolak para penipu tadi bukan masalah sayang uang. Agamaku mengajarkan bahwa berbuat baik sudah dihitung dari niatnya. Jadi sekiranya aku memberikan sedikit rupiah dengan berniat berbuat baik pun, Insya Allah, akan dihitung sebagai suatu kebaikan. Masalah si peminta tadi menipu atau jujur, itu urusan dia dengan Allah. Bagiku, jauh lebih baik uang yang tidak banyak itu jadi tambahan timbangan amalku daripada berakhir hanya ditukar dengan sebungkus gorengan yang bertransformasi jadi segumpal feses esok harinya. 

Tapi, biar bagaimanapun, waspada adalah langkah yang jauh lebih baik. Inget Bang Napi, satu tokoh bertopeng setengah yang selalu muncul di salah satu program berita kriminal di salah satu televisi swasta itu? Jargonnya yang terkenal adalah

"Ingat, kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!"


Tindakan meminta-minta uang dengan menggunakan kisah-kisah fiksi mengenai kemalangan dan kesialan yang menimpa mereka adalah satu tindak penipuan yang (entah ada undang-undangnya atau enggak, tapi harusnya sih) melanggar hukum. Minimal, secara etis bukan sesuatu yang pantas dilakukan, memanfaatkan rasa belas kasihan orang lain untuk mengeruk keuntungan. Tapi ah, jangankan perkara etika, perkara hukum legal yang memiliki hukuman langsung saja aku ragu kalau mereka peduli. Paling mereka tidak ambil pusing dengan etika, apalagi agama. 

Jadi ya...aku memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam mendonasikan sebagian uangku. Aku sama sekali tidak ingin memberikan secuilpun kesempatan untuk para aktor-aktris murahan merangkap kriminal ini. Kalaupun ingin menyumbang, lebih baik aku mendonasikan ke lembaga-lembaga yang lebih jelas pertanggungjawaban keuangannya: uang saya dipakai apa, larinya ke mana.  

* * *  

Suatu kali, ketika aku hendak shalat 'Ashr di masjid Al-Huda Jatinangor sehabis sebuah perjalanan, aku mendapati seorang lelaki yang duduk di ambang pintu masuk masjid dengan wajah ditekuk. Di dekatnya, seorang anak perempuan nampak bermain dengan riang, kontras dengan kesedihan yang tampak di wajah bapaknya. 

"Mas, mau pengajian ya?" tanyanya. Kebetulan saat itu akan ada kajian dari ikhwan Salafi.

"Enggak. Mau shalat," jawabku. 

"Mas, mau nggak beli HP saya?" tanyanya. Iapun menyebutkan sebuah nominal. 

Kemudian dia menceritakan bahwa tas dan barang-barangnya dicuri ketika sedang beristirahat di SPBU. Kini bensin di motornya habis, ditambah lagi oli di motornya yang bocor. Tanpa uang sepeserpun untuk pulang kembali ke sebuah daerah di perbatasan Purworejo - Magelang, ia sekarang menawarkan untuk menjual telepon genggamnya demi sedikit rupiah untuk kembali ke rumah.

"Tapi aku enggak butuh HP mas. Gimana dong?" kataku dengan bahasa Jawa ngoko dialek Jogja. Setelah tahu aku orang Tegal dan bisa berbahasa Jawa, dia mengajakku berbicara dengan bahasa tersebut. Wajahnya semakin murung begitu tahu aku tak bisa memenuhi hajatnya.

Masa iya aku mesti beli barang yang aku enggak butuh?   

Ia bercerita bahwa dari tadi dia sudah berusaha meminta bantuan orang-orang. Bukan untuk meminta uang, hanya meminjam rekening supaya saudaranya di kampung bisa mengiriminya uang lewat rekening tersebut. Sama sekali tidak ada yang mau membantu. 

Akupun bercerita bahwa di daerah Jatinangor banyak penipuan dengan modus terkena musibah dan minta bantuan. Makanya mungkin sekarang banyak orang jadi lebih waspada. 

"Harusnya mas tunjukin surat keterangan yang dari polisi itu," kataku. Sesaat sebelumnya ia memang menunjukkan padaku selembar surat keterangan dari polisi bahwa dia telah menjadi korban pencurian. Suratnya sih asli. 

Dalam hati, aku sebenarnya ingin sekali membantu si mas-mas pahmud (papah muda) itu, apalagi dia bawa anak perempuan kecil. Tapi ya gimana lagi, pengalaman ketemu para pengemis penipu membuat aku lebih waspada, sekalipun banyak bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa dia bener-bener ibnu sabil, orang yang kehabisan bekal perjalanan.  

Enaknya bantuin gak ya?

Tuh 'kan, selain menipu, para pengemis dramatis tadi juga bikin aku jadi mikir seribu kali sebelum bantuin orang, takut kalo si mas itu juga bagian dari komplotan mereka. 

Mudah-mudahan pemerintah kecamatan Jatinangor atau kabupaten Sumedang punya semacam Dinas Sosial yang bisa menertibkan para pengemis yang meminta uang dengan cara berpura-pura kena musibah ini. 

Abisnya ngeselin, pertama bilangnya mau murtad, trus patah kaki, terakhir malah jadi anaknya yang geger otak. 

WTF man?!  
Senin, 21 Desember 2015 0 komentar

Mengosongkan Gelas

Saya tak ingat kapan persisnya mendengar pertama kali tentang analogi gelas ini. Ah, kalo enggak salah suatu sore di Al-Mushlih Center FIB, dalam sebuah halaqah. Di sana dipaparkan sebuah analogi benak manusia layaknya sebuah gelas. Kadangkala, kata si pembicara, ianya perlu dikosongkan sebelum dapat diisi dengan cairan yang lain. Begitupun dengan benak manusia, terkadang ia harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum dapat dimasuki oleh ilmu-ilmu. Dikosongkan dari prasangka, ego, rasa sok tau, dll.

* * *
Di lain kesempatan, saya tengah membaca sebuah artikel tulisan Mohamed Ghilan, seorang Muslim Kanada, doktor bidang Neurosains. Di dalam tulisannya tersebut, brother Ghilan membahas tentang attitude negatif banyak orang, baik dari kalangan Muslim dan Non-Muslim, terhadap Saudi Arabia, khususnya dalam menyikapi berita-berita online tentang Saudi Arabia.

Menariknya, dalam artikel tersebut brother Ghilan menyinggung tentang suatu fenomena psikologis yang disebut negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mengingat hal-hal negatif yang terjadi di sekitar mereka, kemudian dijadikan standar dalam menilai perkara-perkara lainnya. Dalam konteks artikel tersebut, banyak orang lebih mudah mengingat berita-berita negatif mengenai Saudi Arabia, dan kemudian ketika muncul kembali berita lain tentangnya, orang cenderung mengingat-ingat kembai citra negatif yang sudah kadung tercetak alih-alih menilai secara obyektif. 

Di dalam artikel tersebut dipaparkan bahwa negativity bias bermula sejak zaman manusia ada di zaman meramu dan berburu. Disebabkan karena perlunya kehati-hatian dalam menghadapi hewan pemangsa, manusia mengembangkan naluri kewaspadaan dengan mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian tidak menyenangkan supaya tidak terulang. Maka berkembanglah ia menjadi sebuah cara berfikir. 

* * *

Jelang akhir tahun seperti sekarang ini merupakan waktu yang paling pas buat merenung, terutama merenungi kejadian-kejadian yang terjadi selama setahun kebelakang. 

Salah satu yang saya renungi dari kehidupan selama setahun kebelakang adalah banyaknya kesempatan yang saya lewatkan hanya karena saya menumbuhkan insekuritas, rasa tidak aman yang saya kembangkan dari negativity bias akibat pengalaman dan trauma-trauma masa lalu. 

"Duh, nanti kalo ini begini, itu begitu kejadian lagi kayak dulu gimana ya?"

"Takut kalo kejadian itu terulang lagi. Enggak mau ah."

Sayangnya, negativity bias saya cukup sering juga salah sasaran, dipakai untuk memberikan penilaian yang tidak semestinya kepada orang lain semata-mata karena kewaspadaan yang berlebihan. Ini juga yang membuat saya tidak begitu pandai dalam bergaul dengan orang lain. Kadang-kadang kesan pertama saya ketika bertemu dengan orang baru adalah dengan menganggap mereka ancaman.

Bagi saya, ketika pengalaman tidak mengenakkan yang melibatkan orang lain terjadi, lebih mudah bagi saya untuk memaafkan daripada untuk benar-benar melupakan. Selalu ada pelajaran berharga yang bisa diambil yang tidak boleh begitu saja kita hapus dalam ingatan. Parahnya, ingatan yang terlalu dipertahankan ini terkadang justru bermetamorfosis jadi su'udzhan yang berlebihan.

Jadi, yah...kalo ngomongin masalah resolusi dan target-target tahun baru, mungkin salah satu resolusi yang harus saya jalankan adalah untuk mengosongkan gelas, dalam artian saya harus benar-benar forgive and forget terhadap pengalaman-pengalaman masa lalu dan tidak membiarkan memori dan prasangka menghalangi saya untuk mengambil kesempatan-kesempatan yang terbentang di depan.

Bisa nggak ya? Mudah-mudahan bisa. 

Rabu, 07 Oktober 2015 0 komentar

Sepeda

Orang-orang yang berada di lingkup keluarga atau sahabat yang sudah membersamai saya sejak kecil mungkin masih ingat dan sudah mafhum tentang fakta kecil yang ada di kehidupan saya yang bisa dibilang agak lucu dan memalukan: saya tidak bisa naik sepeda sampai hampir kelas dua SMP.

Saya memang waktu kecil bisa dibilang pribadi yang penakut dan manja. Waktu dua roda kecil di sisi kanan dan kiri sepeda saya akhirnya dilepas ketika saya berusia 6 tahun, saya merasakan rasanya pertama kali jatuh dari sepeda karena berusaha menyetimbangkan. Sialnya, saat itu saya menangis dan menyerah. Dan saya terlalu pengecut untuk mencoba lagi dan lagi.

Walhasil, latihan mengendarai sepeda menjadi aktivitas yang saya benci ketika saya menginjak sekolah dasar. Bagi saya saat itu, latihan bersepeda hanya akan menjadi aktivitas sia-sia yang tidak menghasilkan apa-apa selain saya jatuh. Saya pun menghabiskan masa sekolah dasar tanpa tahu keasyikan yang diraskan teman-teman sebaya ketika menggoweskan kaki berangkat sekolah bersama-sama, ikut sepeda santai, atau sekedar bersepeda keliling lapangan sekolah.

Dan saat itu, saya pikir saya akan ‘dikutuk’ dengan tidak bisa mengendarai kendaraan roda 2 dan, sebelum punya mobil sendiri, akan bergantung pada kendaraan umum.

Alhamdulillah, meskipun saya sudah terlanjur pesimis dan jatuh mental, orangtua saya tidak pernah patah semangat memaksa anaknya yang penakut ini untuk belajar sepeda lagi dan lagi.



Sebidang tanah di sebelah utara Stasiun Tegal, tempat saya latihan naik sepeda

Hingga akhirnya saat liburan semester I ketika saya menginjak kelas 7 SMP, saya memutuskan untuk membuang rasa takut, malas, dan malu untuk belajar mengendarai sepeda.

Kali ini, untuk menghindari rasa malu gara-gara saya yang sudah sebesar itu belum bisa mengendarai sepeda, maka dicarilah tempat yang cukup luas untuk saya belajar sepeda, namun tidak menjadikan saya pusat perhatian banyak orang.

Maka ditemukanlah sebidang tanah cukup luas milik PT. KAI di dekat stasiun Tegal. Di tempat itu saya bertekad untuk mematahkan "kutukan" tidak bisa naik sepeda dan terus berusaha walaupun mesti merasakan sakitnya jatuh lagi, lagi, dan lagi.

Tiap pagi selama liburan saya menghabiskan waktu dengan mencoba menyetimbangkan tubuh dan mengayuh sepeda di tanah berpasir yang diapit rerumputan ini. Selain sakit karena jatuh, saya masih harus menahan rasa malu ketika harus menghadapi tatapan aneh dari orang-orang yang melewati daerah itu.

Alhamdulillah, kerja keras saya berbuah manis. Setelah kurang lebih satu minggu berlatih akhirnya saya bisa naik sepeda. Sisa satu minggu liburan saya gunakan untuk memperlancar dan berkenalan dengan jalan raya. Maka, mulai kelas 7 semester II saya pertama kalinya mengayuh sepeda ke sekolah.

Pada akhirnya, bersepeda malah menjadi olahraga yang saya gemari. Sebagai orang dengan koordinasi motorik-sensorik yang tidak begitu baik dan selalu bermasalah dalam olahraga permainan, bersepeda menjadi salah satu cara saya berolahraga yang mudah dan murah. Bahkan, hobi saya bersepada membuat saya memutuskan untuk membawa sepeda ke kota rantau pertama saya di Yogyakarta.



Tiga tahun merantau selama SMA, hanya sesekali saya membawa sepeda motor milik kakak saya ke sekolah. Saya sangat sering bersepeda ke sekolah sampai-sampai satpam SMA saya melontarkan pernyataan bernada prihatin sekaligus simpatik

“Le…le, kowe kok gelem-geleme telung taun ngepit. Koncomu kabeh podho nggowo motor kowe kok ngepit wae.”

(“Duh nak, kamu kok mau-maunya bersepeda ke sekolah selama tiga tahun. Teman-temanmu yang lain membawa sepeda motor ke sekolah, kamu naik sepeda aja.”)

Ungkapan prihatin tersebut hanya saya balas dengan senyum simpul. Bagi saya, sepeda saya menjadi simbol perjuangan pribadi saya untuk mencapai sesuatu yang sebelumnya saya anggap tak mungkin. Sepeda menjadi perwujudan atas firman Tuhan: “Allah tak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Saya tetap lebih menyukai sepeda, hatta setalah saya belajar memainkan gas dan gir.

* * *

Beberapa hari yang lalu, saya kembali melewati sebidang tanah tempat saya belajar sepeda ketika sedang jalan-jalan pagi. Saya pun menyempatkan untuk mengambil sepotong nostalgia dan mengenang perjuangan saya di sana, dan menuliskan kisahnya di Tumblr ini.

Pelajaran yang terbesar yang saya ambil adalah bahwa hidup ini memang tidak dirancang untuk menjadi mudah dan manis. Jatuh, gagal, sakit dan patah hati adalah sesuatu yang niscaya. Namanya berusaha, pasti ujungnya hanya ada dua kemungkinan: berhasil atau gagal.

50:50

Maka menghindari kegagalan dengan cara menghindari berusaha, adalah kegagalan yang tak terelakkan. Contohnya begini, ketika dulu saya menghindari belajar sepeda karena takut jatuh dan gagal maka hasilnya saya tidak bisa naik sepeda selama beberapa tahun, which is also a failure. Jadi ya, satu-satunya solusi yang masuk akal adalah kita harus menghadapi resiko dan berani gagal, berani jatuh, dan berani sakit. Now that’s a life lesson.

Konsekuensi logisnya adalah, penghalang terbesar yang menghalangi kita dari keberhasilan yang ingin kita capai adalah diri kita sendiri. Seringkali kita menyerah pada keadaan, sedangkan keadaan seringkali berada di luar kendali kita. Kita hanya punya kontrol atas diri kita sendiri. Betapapun sulitnya keadaan, kita harus tetap berusaha terus bergerak maju dan berusaha untuk tetap setimbang layaknya naik sepeda.

(Tulisan ini ditulis sekitar Juni tahun 2014)
Minggu, 30 Agustus 2015 0 komentar

Berkenalan dengan MQFM Bandung

Sepanjang Juni - Juli kemarin tumben-tumbennya aku dilingkupi oleh kesibukan-kesibukan yang membuat kehidupan sejenak berasa sangat hectic: mulai dari upaya mengejar lulus yang tak terkejar sampai Agustus, pindah kos dengan membawa seabreg barang, hingga seleksi dan pelatihan penyiar MQFM yang kisahnya hendak aku narasikan berikut ini.

Ketika tengah berselancar di media sosial di sela-sela kesibukan bimbingan skripsi dan pindah kosan awal Juni kemarin, tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah pengumuman di beranda Facebook-ku. Isinya adalah tentang  agenda audisi penyiar MQFM yang diadakan bersamaan dengan event Islamic Book Fair di Braga Landmark tanggal 3 Juni pukul tiga sore. Entah kenapa saat itu rasanya aku sangat tertarik. Padahal aku sebenarnya tidak begitu bercita-cita menjadi penyiar radio. Saat memutuskan untuk ikut audisi, aku yang biasanya berpikir panjang dan mempertimbangkan untung-rugi yang cukup detail sebelum memutuskan sesuatu tiba-tiba langsung dapat memutuskan begitu saja:

"Yeah, sure. Why not?"

Walhasil, tanggal 3 Juni setelah salat Dzuhur aku pun menempuh perjalanan dari Jatinangor ke jalan Braga di pusat kota Bandung. Karena aku memang jarang sekali pergi ke Bandung sendirian, apalagi naik angkutan umum, aku sempat tersesat gara-gara salah naik angkot, yang menyebabkan aku terlambat datang di lokasi satu jam dari waktu yang ditentukan. Tak apalah, akhirnya aku berhasil sampai ke lokasi dengan semangat dan excitement yang membuncah karena mencoba pengalaman baru.

Nomor peserta audisi
Excitement yang aku rasakan mendadak sirna setelah mengetahui bahwa audisi penyiarnya diadakan di panggung utama, dengan ditonton oleh para pengunjung serta penjaga booth toko buku. Aduh, jujur saat itu rasanya aku ingin pulang saja. Aku pikir tadinya audisi ini akan diadakan di sebuah booth, bukan di panggung utama dengan ditonton puluhan orang seperti ini. Namun akupun akhirnya memberanikan diri, apalagi sudah menghabiskan waktu, tenaga, serta materi yang akan menjadi tak bernilai begitu saja seandainya aku memilih bersikap pengecut. Beruntung, aku bertemu dengan kang Dzikri, salah satu penyiar MQFM yang merupakan kakak angkatanku di kampus. Beliau dan juga beberapa peserta audisi lainnya menjadi teman ngobrol yang menyenangkan, untuk mencairkan gumpalan ketegangan yang menyumbat benakku sore itu.

Ketika giliranku untuk naik ke atas pentas, kakiku bergetar hebat karena tegang. Suaraku sampai nyaris pecah karena jantungku yang berdetak begitu keras seolah mencekik tenggorokanku. Setelah mencoba menirukan cara bicara seorang penyiar, aku pun diberi pertanyaan yang harus aku jawab dengan topik menganai dunia Islam. Di bagian itu aku mulai berbicara agak lancar, selain karena ketegangan sudah mulai cair, topik itu menjadi salah satu yang sering aku baca.


Aku sama sekali tak berharap banyak waktu itu, namun qadarullah wa maa syaa'a fa'al namaku termasuk di antara sepuluh orang yang terpilih masuk ke seleksi wawancara di tahap selanjutnya. Saat itu pertama kalinya aku mengunjungi studio MQFM Bandung di JL. Gegerkalong Girang Baru no. 11 Bandung. Di sana, selain di wawancara aku juga harus kembali menunjukkan kemampuanku membacakan informasi dengan gaya penyiar. Dengan pengalaman lomba pidato, lomba news casting, serta lomba story telling yang cukup sering aku ikuti zaman sekolah duluakupun berusaha untuk membaca kertas yang disodorkan padaku dengan sebaik-baiknya. Kali ini tidak begitu tegang karena
dilakukan di ruang tertutup dengan dinilai oleh empat orang penyiar senior.

Beberapa hari kemudian, awal-awal Ramadan, aku mendapat telepon dari pihak MQFM yang memintaku datang lagi ke studio. Aku mendapat kesempatan untuk mengikuti tahap selanjutnya, yakni pelatihan tahap pertama yang diadakan selama beberapa hari di studio MQFM Bandung. Setelah melalui tahap wawancara (lagi), akupun memulai periode pelatihan bersama empat orang lainnya: Muas, Ikhsan, Qorry, dan Retno. Selama beberapa hari kami dilatih dan diajari beberapa teknik yang perlu dimiliki seorang penyiar, mulai dari artikulasi, vokal, sampai latihan membuka dan menutup program siaran. Selain itu, kami berkesempatan untuk melakukan observasi, melihat bagaimana seorang penyiar radio memperagakan kemampuan multi-tugas yang luar biasa: berbicara di depan mikropon sambil mengontrol mixer dan komputer yang memainkan musik dan spot iklan. Selain itu, di akhir sesi kami diberikan "ujian praktek" dengan bersiaran secara tandem bersama penyiar MQFM.

Selama masa audisi sampai pelatihan ini, rasanya menyenangkan bisa "bertobat" dari kebiasaan hidup sedenter. Aku memang tipe-tipe orang yang cenderung malas keluar kosan/rumah jika tidak ada keperluan dengan urgensi tinggi. Selain itu, aku termasuk pribadi yang kurang menyukai tantangan dan cenderung terpuruk di zona nyaman. Ketika memutuskan untuk menghadiri audisi di jalan Braga itu, aku bersyukur dalam hati karena mulai berani menerobos zona nyaman dengan memberanikan diri berkendara sejauh puluhan kilometer dan melawan rasa takut berbicara di depan umum.

Masa pelatihan yang bertepatan dengan bulan Ramadan pun meninggalkan kesan tersendiri buatku. Tiap pagi, ketika jarum pendek masih di angka 10, aku berangkat ke daerah Gegerkalong Girang dari kosanku di Jatinangor. Menurut Google Map sih jaraknya sekitar 40 KM, tapi semua itu aku tempuh dengan ringan karena aku sangat bersemangat mengeksplorasi potensiku di bidang yang sama sekali asing bagiku sebelumnya. Beberapa menit selepas pukul 12 biasanya aku sudah sampai di sekitar Jl, Gegerkalong Girang. Sambil menunggu waktu pelatihan yang dimulai pukul 13.00, aku biasanya berdiam di masjid DT ba'da shalat Dzuhur, menyesap suasana relijius dan spiritual yang terasa begitu kental di lingkungan pesantren, apalagi di bulan Ramadan. Menghabiskan siang Ramadanku di lingkungan yang sangat kondusif membuat shaum-ku Ramadan kemarin menjadi lebih berenergi, walaupun beraktifitas yang memakan waktu sampai menjelang berbuka.

Sempat masuk studio juga.
Kesan lain yang melekat di benakku adalah kesan profesionalisme yang nampak di lingkungan MQFM Bandung. Dari segi fisiknya saja, terrepresentasikan dengan sebuah bangunan kantor yang cukup bersih dan rapi, terletak bersebelahan dengan kantor MQTV. Dari segi konten, menurutku MQFM Bandung menempatkan diri dengan sangat bagus dengan memberikan porsi yang berimbang antara taushiyah, talk show, dan musik. Terkadang radio Islam agak terlalu berat di ceramah, sehingga mungkin berkesan terlalu menggurui. Ada juga yang terlalu condong di hiburan, sehingga kesan relijiusnya malah jadi kurang terasa. Yang paling aku sukai dari MQFM Bandung adalah talk show-nya yang begitu variatif. Sesuai dengan tagline-nya, Inspirasi Keluarga Indonesia, agaknya program-program di MQFM Bandung memang ditujukan untuk seluruh anggota keluarga, mulai dari orangtua sampai anak-anaknya.

Sampai akhirnya, akhir Juli kemarin, datanglah hari yang menentukan apakah kami lolos ke tahap selanjutnya atau terhenti di sini saja. Tahap selanjutnya adalah pelatihan tahap kedua, yang hanya bisa ditempuh oleh mereka yang sudah resmi diterima menjadi penyiar. Secara pribadi aku berharap kami berlima dapat diterima, tapi itu jelas tak mungkin. Pada akhirnya, hanya dua dari kami yang masuk menjadi penyiar MQFM, sedangkan aku, Muas, dan Retno mendapat surat keterangan magang yang ditandatangani oleh kang Sigit Kurniawan, manajer produksi sekaligus salah satu mentor kami selama masa pelatihan.

Alhamdulillah 'alaa kulli haal, walaupun secara manusiawi ada sedikit gurat kecewa karena sudah terlanjur menumbuhkan ekspektasi, tapi ini yang terbaik dari Allah. Mungkin Tuhan melihat bahwa aku masih harus berkonsentrasi sepenuhnya untuk menyelesaikan studi tanpa terganggu fokusnya dengan pekerjaan. Walaupun tidak sampai menjadi penyiar, aku bersyukur karena telah mendapatkan pengalaman baru, ilmu baru, saudara-saudari baru, serta sesuatu yang berguna untuk mengisi CV ku, hehehe...Tetapi yang paling penting aku bangga telah berhasil memaksa diriku sendiri untuk keluar dari zona nyaman, melawan rasa takut, serta mencoba hal baru. I hope it leads to something good.
Semoga aku bisa mengeksplorasi potensiku serta menebar manfaat di tempat yang lain.

Selamat buat kang Ikhsan Malik dan teh Qorry Aina, semoga menjadi ladang amal saleh bagi kalian berdua dan kru MQFM sekeluarga. Juga, happy belated birthday yang ke-14 untuk MQFM Bandung, semoga tetap menjadi sumber inspirasi bagi keluarga-keluarga di Indonesia.

Cheers!      

Rabu, 05 Agustus 2015 0 komentar

Logat

"Aslinya dari mana, kang?"

"Tegal," jawabku.

"Oh...Tegal," balasnya sembari mencoba menekankan pada suku kata "gal" supaya terdengar medok.

* * * 

Skenario seperti tertulis di atas bukanlah hal yang asing bagiku. Ya, hampir tiap kali aku menjawab pertanyaan tentang kota asalku, orang yang bertanya selalu mencoba mempraktekkan logat yang, mungkin menurut mereka, seperti logat Tegal. Terkadang ada juga orang yang sengaja memintaku untuk berbicara dalam bahasa Tegal demi memenuhi rasa penasaran mereka. 

Pada awalnya aku merasa sedikit risih, karena merasa orang menjadikan budayaku sebagai bahan bercandaan. Tapi lama-lama aku biasa saja, bahkan menganggap bahwa upaya mereka mengimitasi bahasaku sebagai upaya ingin bersikap bersahabat. I'm now OK with that

Toh itu bukan sepenuhnya salah mereka. Pengetahuan banyak orang tentang cara bicara orang Tegal mungkin sangat dipengaruhi oleh penggambaran orang-orang Tegal di media, sinetron terutama. Sinetron Indonesia seringkali mengidentifikasi latarbelakang etnis tokoh-tokohnya menggunakan logat, yang tentu saja telah mengalami dramatisasi. 

Dalam kasus logat Tegal, logat di sinetron tidak sama dengan logat Tegal yang sebenarnya. Menurutku sih, logat dalam sinetron terjadi kerancuan antara logat Tegal dan logat Ngapak, yaitu dialek Jawa yang dipakai di daerah Jawa Tengah bagian selatan (Cilacap, Kebumen, Banyumas, dll.). Mirip sih, tapi tidak sama. Dan memang, logat Ngapak ini medoknya lebih terdengar dari logat Tegal, dan mungkin lebih dramatis dan cocok untuk acara-acara televisi. 

Sejauh ini, baru ada tiga tokoh yang menurutku logat Tegalnya lebih mendekati aslinya: Pampam dari sinetron lawas Tuyul dan Mbak Yul, serta tokoh Sakiyat dan Man Damin dari sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Itupun karena pemerannya asli orang Tegal. 

Alhamdulillah, salah satu kemudahan yang dikaruniakan Tuhan kepadaku adalah bakat linguistik yang memudahkan aku mempelajari bahasa dan menyesuaikan diri dengan logat-logat lawan bicara. Ketika SMA, aku merantau ke Jogja dan mempelajari bahasanya; kemudian belajar bahasa Inggris dengan logat American ataupun British; berbicara dengan Tuhan dalam bahasa Arab dialek Quraisy abad ke-7 dengan tajwid dan makharijul huruf-nya; marantau ke tanah Sunda dan berusaha sedikit-sedikit juga mempelajari bahasanya; bergaul dengan teman-teman dari Ibu Kota dan mengimitasi gaya loe gue-nya. Walhasil, logat medok Tegalku sudah hilang tak tahu ke mana. 

Kadang-kadang, ada juga yang bertanya:

"Asli mana?" 

"Tegal."

"Lho, kok enggak medok?"

Biasanya aku hanya balas dengan nyengir.

Sabtu, 11 April 2015 0 komentar

Pemuda dan Tetes-tetes Minyak

Seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di dunia. Anak itu melintasi padang pasir selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan terlihat kesibukan besar di dalamnya: para pedagang berlalu lalang, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orkestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan
enak di belahan dunia tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu, barulah tiba gilirannya.

Si orang bijak mendengarkan dengan saksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun dia mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali ke sini dua jam lagi.

"Sementara itu, aku punya tugas untukmu," kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok teh berisi dua tetes minyak. "Sambil kau berjalan-jalan, bawalah sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah."

Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

"Nah," kata si orang bijak, "apakah kau melihat tapestri-tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?"

Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu terfokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

"Kalau begitu pergilah lagi berjalan-jalan, dan nikmatilah keindahan-keindahan istanaku," kata si orang bijak. "Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya."

Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut, kali ini dia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia mengamati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan bunga-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu di sana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, diceritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

"Tapi di mana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu?" tanya si orang bijak.

Si anak muda memandang sendok di tangannya, dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

"Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan untukmu," kata orang paling bijak itu. "Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu."
(Dikutip dari "The Alchemist" karya Paulo Coelho)
Senin, 06 April 2015 0 komentar

Tentang Secangkir Kafein

"Mbok ya kebiasaan ngopimu itu dikurangi."

"Hati-hati lho nanti ususmu jadi item."

"Awas tuh lambungmu. Kamu 'kan pernah kena tipes."

Peringatan-peringatan senada sudah seringkali aku dengarkan dari orang-orang terdekat, terutama keluarga, yang entah kenapa begitu mempersoalkan kebiasaanku minum kopi. Bagiku, tanpa bermaksud untuk tidak menghargai perhatian mereka, peringatan-peringatan itu tidak kuanggap serius. Aku tidak merasa berlebihan dalam mengonsumsi kopi. Tiap hari, kubatasi hanya satu atau dua cangkir, dan dari banyak artikel yang kubaca aku tahu kalau dosisku masih dalam batas aman. Lagipula, aku juga sudah belajar untuk menikmati kopi hitam polos tanpa gula, susu, atau krimer. Riwayat diabetes di keluargaku mengharuskanku untuk mengontrol konsumsi gula yang masuk ke tubuh. Dan toh ternyata tidak ada perbedaan signifikan baik mengonsumsi kopi hitam polos, atau dengan tambahan lain. Rasanya pahit, memang. Tapi toh sensasi segar yang kurasakan tidak banyak berubah.

* * *

Kalau kutelisik, bisa jadi kecintaanku pada minuman hitam ini berawal dari masa kecilku. Sebagai orang Tegal, aku sudah terbiasa menikmati teh sejak kecil. Minuman ini tersedia di berbagai kesempatan, disajikan di berbagai pertemuan dan perjamuan mulai dari majlis ta'lim, acara keluarga, dan tersedia di berbagai
 restoran baik besar maupun kecil.

Di rumahku, dulu waktu aku masih bersekolah di SD, tiap pagi ibuku selalu menyediakan masing-masing satu gelas berisi teh manis hangat yang biasanya aku nikmati setelah sarapan pagi. Teh manis hangat ini tak pernah absen aku seruput sambil menunggu jarum jam beranjak setengah tujuh. Kebiasaan inipun berlanjut sampai aku naik tingkat menjadi siswa seragam putih biru.

Selain itu, orang Tegal punya tradisi "Moci", yaitu menikmati teh dari perkakas minum teh yang terbuat dari tanah liat. Kononnya, aroma dan rasa teh, terutama teh melati, akan terasa lebih mantap jika disajikan melalui piranti tanah liat, baik teko maupun gelasnya. Teh yang disajikan sangat pekat, yaitu satu bungkus teh yang digunakan untuk diseduh dengan 3/4 takaran teko tanah liat yang berukuran tidak begitu besar. Rasanya? Sangat kuat, campuran antara rasa pahit dan sepet yang umumnya dihasilkan oleh teh melati. Disajikan dengan gula batu, teh ini memberikan sensasi segar yang ditimbulkan oleh kafein yang dipadu dengan rasa teh melati yang khas.

Mungkin dari kebiasaan inilah tumbuh kecintaanku akan minuman berkafein. Meskipun kecintaanku pada kopi baru muncul ketika aku SMA, namun kebiasaan rutin minum teh inilah yang mungkin menjadi awal kecanduanku.

Ketika SMA, aku menjadi perantau yang melanjutkan jenjang pendidikan di kota yang cukup jauh dengan kota kelahiranku. Selama tiga tahun jadi perantau di Yogyakarta, aku sudah tidak begitu sering lagi minum teh dipagi hari. Maklum, tinggal di kos sendirian membuatku harus disibukkan dengan keperluanku sendiri tiap pagi, mulai dari membeli makanan untuk sarapan, hingga kadang-kadang mencuci dan menyetrika baju.

Akan tetapi, waktu SMA ini aku mulai agak sering minum kopi, walaupun tidak sesering sekarang ini. Tiap sabtu malam, entah kenapa aku selalu merasa ingin menyeduh kopi.Waktu itu yang masih jadi favoritku adalah kopi instan kelas "ringan" seperti Good Day dan Kopiko Brown Coffee. Waktu itu aku belum mengenal kopi-kopi premium yang dibuat menggunakan mesin Espresso, dan kurang menggemari kopi hitam.

Kebiasaan ini berlanjut sampai sekitar satu tahun kuliah. Aku masih tidak begitu sering ngopi seperti sekarang. Bagiku saat itu, kopi hanya minuman yang aku nikmati sekali-kali di akhir pekan karena tubuhku saat itu masih sensitif kafein: ngopi jam enam sore bisa membuatku terjaga sampai pukul dua pagi. Daripada ambil resiko terlambat kuliah gara-gara begadang, lebih baik minum kopi hanya ketika akhir pekan saja.

Tahun kedua kuliah, aku mulai butuh ngopi. Pasalnya, banyak matakuliah saat itu mengharuskanku untuk melahap banyak bacaan dan membuat esai tentangnya. Alhasil, seringkali minuman hitam itu aku pakai untuk menjadi semacam ramuan yang membuatku tetap terjaga demi tugas. Saat itu juga, aku mulai kecanduan kopi sampai sekarang.

Kalau dulu aku hanya ngopi seminggu sekali, mulai tahun itu aku mulai harus minum kopi setidaknya satu cangkir per hari. Kalau dulu yang aku nikmati hanya kopi-kopi kelas teri yang dijual seribu rupiah per sachet, saat ini malah aku lebih menyukai kopi hitam pekat, bukan lagi kelas instan. Aku juga mulai menjajal espresso-based coffee yang, meskipun harganya agak mahal, mampu membuatku lumayan ketagihan.

Bahkan akhirnya aku pun berencana membuka kedai kopiku sendiri.

* * * 

Bagiku, kopi bukan hanya sekedar minuman manis berperisa seperti sirup atau susu. Bagiku, kopi sangat erat hubungannya dengan aktivitas batin manusia karena kafein yang dikandungnya mempu merangsang otak untuk lebih bekerja.

Konon, dari yang pernah aku baca, kopi dahulu kala digunakan oleh kaum sufi agar mereka mampu dan kuat berzikir semalaman. Kopi juga seringkali digunakan oleh para intelektual untuk merangsang otak mereka agar mampu bekerja, membaca atau menulis. Tak heran, seringkali kita temui orang-orang yang menulis di warung kopi, atau bahkan warung kopi yang merangkap tempat diskusi.

Kopi, dalam sejarahnya, juga menjadi jembatan kedua budaya yang seringkali berbenturan, yaitu budaya Eropa dan Arab/Islam. Dalam sejarahnya, konon orang Eropa pertama kalimengenal kopi dari perbekalan pasukan Turki yang saat itu gagal menaklukkan kota Vienna. Bahkan, kopi, yang menjadi sumber energi bagi para pecinta Tuhan agar kuat menyebut namaNya semalaman, pada akhirnya juga mencapai Vatikan.  

Ada sebuah anekdot yang cukup menggelitik yang konon datangnya dari Paus Clement VII. Kopi yang saat itu dianggap sebagai "minuman orang kafir" atau "minuman setan" di daratan Eropa akhirnya sampai juga kehadapan sang paus. Ketika ia mencicipi secangkir kopi, beliau pun berujar

"Wah, minuman setan ini enak juga. Kita mesti mencurangi para setan itu dengan membaptis minuman mereka ini!"

Anda tersenyum? Sama, saya juga. Kononnya, paus Clement VIII membaptis kopi dan sejak saat itu popularitasnya mulai menyebar ke daratan Eropa.

Entah anekdot di atas mengandung kebenaran ataupun tidak, yang jelas sampai sekarang kopi menjadi minuman yang bisa dikatakan paling populer di dunia. Ia bisa dinikmati kapan saja, pagi sampai malam hari, dan dengan cara apa saja: espresso, Vietnam drip, tubruk, a la Turki, dll.

Namun bagiku, ia bukan sekedar minuman. Ia adalah energi. 
Rabu, 25 Maret 2015 0 komentar

The Age of [Unnecessary] Communication

Zaman sekarang, sepertinya memiliki beberapa akun media sosial, aplikasi perpesanan, dan piranti-piranti yang mempermudah penggunaannya bukan lagi perkara pilihan, tapi sudah masuk ranah kelaziman, bahkan kewajiban.

Sekitar dua tahun lalu, ketika aku memutuskan untuk tak lagi memakai telepon genggam warisan bapakku dan membeli telepon genggam sendiri, aku lebih memilih telepon genggam sederhana yang cukup untuk sekedar menelepon atau berkirim pesan singkat. Maka pilihanku jatuh kepada Nokia Asha 305, telepon genggam bermodel candy bar dengan warna dominan biru muda. Sebenarnya kalau bicara masalah biaya, uang yang aku punya saat itu cukup untuk membeli telepon genggam Android dengan berbagai fitur-fitur perpesanan yang bermacam-macam, entah WhatsApp, Line, BBM, dan berbagai aplikasi lainnya yang perkembangan pasarnya sangat pesat. Namun dasar aku ini aneh, aku tak seperti banyak orang lainnya yang gandrung menghabiskan waktu dengan menatap layar piranti komunikasi sambil bercakap dengan orang nun jauh diluar sana. Aku lebih menyukai jika waktuku untuk mambaca, menonton film, berkontemplasi, atau bermeditasi tidak terganggu oleh notifikasi-notifikasi yang membuat telepon genggam diselingi bunyi "pling!" untuk satu obrolan yang tidak penting.

(Aku ingat pernah memasang aplikasi Line di telepon genggamku itu satu ketika. Ya Tuhan! Betapa berisiknya...)

Begitupun dengan akun-akun media sosial. Sejauh yang aku ingat, hanya tiga akun media sosial yang aku gunakan: Facebook, Twitter, dan Tumblr. Memang ada beberapa akun lain yang pernah aku buat, seperti Muxlim, Millat Facebook, dan Google+. Tapi akun-akun itu sudah lama sekali tak kuurus, dan yang benar-benar aku pakai tinggal yang tiga itu. Aku memakai Facebook karena sudah terlanjur mencandu bagiku. Tumblr aku pilih sebagai sarana blogging karena interface-nya yang jauh lebih mudah daripada Wordpress atau Blogger. Kalau Twitter sebenarnya dulu aku mendaftar hanya demi kepentingan akademik, supaya bisa memantau Jarkom dari himpunan mahasiswa jurusanku, tapi aku kini jarang memakai Twitter karena fiturnya yang terbatas. 140 karakter terlalu terbatas untuk gaya tulisanku yang cenderung mendetail.

(Selain itu, alasan mengapa aku kini menghindari Twitter adalah karena menurutku Twitter itu isinya tidak begitu layak baca dan trending topiknya cenderung bodoh, seperti luahan perasaan galau yang alay; Twit war kurang kerjaan antara Joko Anwar dan Marissa Haque; serta penggiringan opini publik yang tidak kritis dan cenderung ikut-ikutan semacam hashtag #SaveHajiLulung.)

Tapi kadang aku tidak bisa mengerti betapa gandrungnya orang Indonesia, yang oleh Al Jazeera sempat dijuluki The Social Media Capital, dengan aplikasi media sosial dan perpesanan. Satu orang pengguna media sosial di Indonesia bisa memiliki sampai lima akun atau lebih di aplikasi perpesanan dan media sosial. Padahal, kalau dipikir-pikir teman-temannya di akun-akun media sosial dan aplikasi pertemanannya ya itu-itu juga. Sering aku melihat orang yang menyebarkan ID aplikasi pertemanan dan/atau perpesanannya di beranda Facebook dan meminta orang-orang yang menjadi temannya di Facebook untuk menambahkannya sebagai teman di aplikasi pertemanan dan/perpesanan yang berbeda. Bukankah, kalau dipikir-pikir, ini absurd?

Kalau ujungnya hanya meminta teman-teman kita di Facebook untuk menambahkan akun-akun kita di lima akun media sosial lain, untuk apa punya banyak-banyak akun kalau teman-temannya itu-itu juga?

Keherananku tak berhenti sampai di sini. Aku juga heran dengan orang-orang yang lebih memilih untuk menekuri layar piranti elektroniknya ketika dia sedang berada di sekitaran orang-orang yang mereka sayangi, yang meraka kenal, dan yang mereka bisa ajak berkomunikasi. Fenomena aneh seperti ini sering aku jumpai ketika aku sedang berada di tempat-tempat makan. Kadang-kadang aku melihat orang yang duduk semeja dengan ditemani sahabat, kerabat, atau pasangan, tapi matanya sibuk menatap layar yang menyala terang, sambil cekikikan dan memainkan jari-jemarinya di layar sentuh. Untuk apa, kalau begitu, makan sambil ditemani seseorang kalau pada akhirnya lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada orang-orang di dunia virtual?

Entahlah, mungkin curahan pikiranku di atas terdengar nyinyir, terdengar sinis. Tapi sejujurnya, menurutku penggunaan aplikasi pertemanan dan perpesanan di Indonesia sudah mencapai tingkat eksesif. Orang tidak lagi peduli untuk menyimpan kehidupannya untuk dirinya sendiri, terutama hal-hal yang sifatnya pribadi. Mulai dari apa yang kita makan, apa yang kita lakukan, dengan siapa, apa yang kita rasakan, semuanya kita bagikan dengan orang-orang di sekitar. Ruang untuk provasi semakin menyempit, rasa haus dan lapar akan  perhatian berupa like atau komentar dari orang lain menjadi kebutuhan yang bagai menghimpit.

Di sisi lain, secara sadar atau tidak sadar, kita menjadi semacam konsumen untuk kehidupan orang lain. Kita menghabiskan banyak waktu untuk menekuri tulisan di laman maya untuk membaca apa yang orang pikirkan, foto makanan meraka, apa yang sedang mereka rasakan, dsb. Apa signifikansinya bagi kehidupan pribadi  kita sendiri, padahal?

Tunggu, aku sama sekali tidak sedang merutuki kemajuan zaman. Bagiku, semua itu ada manfaat yang cukup besar. Aku sendiri terhubung dengan banyak orang yang sudah lama tidak aku jumpai lewat Facebook, begitu juga dengan Varsity baru yang aku beli secara online lewat sebuah grup jual beli di dunia maya, atau konten-konten inspiratif yang sering aku baca lewat Tumblr. Semua itu baik, semua itu bagus.Namun, aku pikir ada kalanya hingar-bingar teknologi ini sudah nyaris hilang kontrol.

Zaman sekarang, orang rela menghabiskan berjam-jam demi memantau status, atau postingan. Kadang-kadang, ketika feedback  yang didapatkan berupa komentar yang tidak diharapkan, orang bisa bertengkar dan berdebat dengan sesama pengguna piranti dunia maya. Tidak jarang, mereka bertengkar dengan orang yang sama sekali tidak mereka kenal. Belum lagi ketika media sosial menjadi ajang untuk bersumpah serapah, saling menghina dan menyakiti., dll.

Namun begitu, masalah yang paling krusial dalam hal penggunaan media sosial adalah masalah teralihkannya lebih banyak fokus ke dunia maya. Alih-alih terfokus pada kehidupan mereka yang riil, orang zaman sekarang sepertinya lebih sibuk memikirkan bagaimana bisa menampilkan citra diri yang paling baik di dunia maya. Seolah-olah, mengabarkan kepada dunia tentang kehidupan kita jadi lebih penting daripada menjalani kehidupan itu sendiri.

Begitupun dalam interaksi, sepertinya kini tinggal sedikit ruang yang tersisa untuk menyendiri. Semua orang sibuk berkomunikasi melalui berbagai piranti, meskipun terkadang tidak begitu penting atau mendesak. Pemandangan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan mata lekat pada layar telepon genggam atau layar Loh besi menjadi hal yang wajar. Ironisnya, hal-hal seperti ini jamak juga terjadi di tengah-tengah perkumpulan sosial, di mana para anggotanya nampaknya lebih menikmati menekuri layar daripada berinteraksi satu sama lain.

Ah, aku ini memang aneh dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman.
Kamis, 22 Januari 2015 0 komentar

The Fat Philosopher Reborn: It's Basically a Restart

Susah memang jadi orang yang nggak fokus: Semua gerakan-garakan dan inisiatifnya sifatnya impulsif. Sering berubah-ubah dan nggak konsisten. Dapet inspirasi ini, lakuin ini. Belum kelar, dapet inspirasi itu, lakuin itu. Nggak ada yang beres sama sekali akhirnya. Ya karena nggak fokus!

Begitupun dalam hal tulis-menulis di dunia maya. Sebenernya gue ini suka nulis, tapi pada akhirnya nggak ada yang fokus. Pernah bikin WordPress, udah nggak keurus sama sekali. Punya Tumblr isinya cuman curhatan pribadi, giliran bikin akun Tumblr baru buat fokus nulis tentang satu atau beberapa tema, ditinggal lagi. Blog ini pun gitu, pernah mengalami berbagai pasang surut -bahkan hiatus- dan sekarang gue malah putuskan buat hapus semua postingan dan mulai dari awal lagi.

[Tadinya malah niat bikin akun baru lagi!]

Salah satu yang bikin gue bosen ngeblog karena gue cuman menggunakan sarana blogging buat nyalurin apa-apa yang ada di otak gue begitu saja. Nggak ada tema besar, nggak ada rancangan, nggak ada spesifikasi bahasan. Lagi pengen ngomongin tentang cewek bercadar, tulis tentang cewek bercadar; lagi pengen ngomongin tentang makanan, ngomongin makanan; lagi pengen galau, tulis cerpen galau. Akhirnya blog gue malah jadi berantakan.

Gue memutuskan buat mulai lagi blog ini dari awal. Rencananya sih, postingan-postingan di blog ini Insya Allah cuman bakalan berkisar antara hal-hal berikut:

- Review buku atau film
- Terjemahan artikel yang gue rasa bagus
- Resep masakan. Yes, I'm freakin love cooking
- Tulisan-tulisan refleksi yang sifatnya bukan curhat
- Cerpen
- Kutipan dari artikel/buku yang gue rasa bagus

Gue harap, dengan pembagian bentuk-bentuk dasar tulisan yang rencananya bakalan menuhin blog gue yang baru direstart ini, laman ini jadi nggak bakalan terlalu berantakan karena jadi lebih gampang ngatur tag-nya. Selain itu, dengan pembagian yang lebih sistematis, mudah-mudahan gue bakalan lebih terangsang buat nulis, dan tentunya kali ini mudah-mudahan lebih fokus dan nggak perlu restart lagi atau bikin akun baru lagi.

Ah, semoga...
 
;