Sabtu, 11 April 2015 0 komentar

Pemuda dan Tetes-tetes Minyak

Seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di dunia. Anak itu melintasi padang pasir selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan terlihat kesibukan besar di dalamnya: para pedagang berlalu lalang, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orkestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan
enak di belahan dunia tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu, barulah tiba gilirannya.

Si orang bijak mendengarkan dengan saksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun dia mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali ke sini dua jam lagi.

"Sementara itu, aku punya tugas untukmu," kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok teh berisi dua tetes minyak. "Sambil kau berjalan-jalan, bawalah sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah."

Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

"Nah," kata si orang bijak, "apakah kau melihat tapestri-tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?"

Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu terfokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

"Kalau begitu pergilah lagi berjalan-jalan, dan nikmatilah keindahan-keindahan istanaku," kata si orang bijak. "Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya."

Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut, kali ini dia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia mengamati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan bunga-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu di sana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, diceritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

"Tapi di mana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu?" tanya si orang bijak.

Si anak muda memandang sendok di tangannya, dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

"Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan untukmu," kata orang paling bijak itu. "Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu."
(Dikutip dari "The Alchemist" karya Paulo Coelho)
Senin, 06 April 2015 0 komentar

Tentang Secangkir Kafein

"Mbok ya kebiasaan ngopimu itu dikurangi."

"Hati-hati lho nanti ususmu jadi item."

"Awas tuh lambungmu. Kamu 'kan pernah kena tipes."

Peringatan-peringatan senada sudah seringkali aku dengarkan dari orang-orang terdekat, terutama keluarga, yang entah kenapa begitu mempersoalkan kebiasaanku minum kopi. Bagiku, tanpa bermaksud untuk tidak menghargai perhatian mereka, peringatan-peringatan itu tidak kuanggap serius. Aku tidak merasa berlebihan dalam mengonsumsi kopi. Tiap hari, kubatasi hanya satu atau dua cangkir, dan dari banyak artikel yang kubaca aku tahu kalau dosisku masih dalam batas aman. Lagipula, aku juga sudah belajar untuk menikmati kopi hitam polos tanpa gula, susu, atau krimer. Riwayat diabetes di keluargaku mengharuskanku untuk mengontrol konsumsi gula yang masuk ke tubuh. Dan toh ternyata tidak ada perbedaan signifikan baik mengonsumsi kopi hitam polos, atau dengan tambahan lain. Rasanya pahit, memang. Tapi toh sensasi segar yang kurasakan tidak banyak berubah.

* * *

Kalau kutelisik, bisa jadi kecintaanku pada minuman hitam ini berawal dari masa kecilku. Sebagai orang Tegal, aku sudah terbiasa menikmati teh sejak kecil. Minuman ini tersedia di berbagai kesempatan, disajikan di berbagai pertemuan dan perjamuan mulai dari majlis ta'lim, acara keluarga, dan tersedia di berbagai
 restoran baik besar maupun kecil.

Di rumahku, dulu waktu aku masih bersekolah di SD, tiap pagi ibuku selalu menyediakan masing-masing satu gelas berisi teh manis hangat yang biasanya aku nikmati setelah sarapan pagi. Teh manis hangat ini tak pernah absen aku seruput sambil menunggu jarum jam beranjak setengah tujuh. Kebiasaan inipun berlanjut sampai aku naik tingkat menjadi siswa seragam putih biru.

Selain itu, orang Tegal punya tradisi "Moci", yaitu menikmati teh dari perkakas minum teh yang terbuat dari tanah liat. Kononnya, aroma dan rasa teh, terutama teh melati, akan terasa lebih mantap jika disajikan melalui piranti tanah liat, baik teko maupun gelasnya. Teh yang disajikan sangat pekat, yaitu satu bungkus teh yang digunakan untuk diseduh dengan 3/4 takaran teko tanah liat yang berukuran tidak begitu besar. Rasanya? Sangat kuat, campuran antara rasa pahit dan sepet yang umumnya dihasilkan oleh teh melati. Disajikan dengan gula batu, teh ini memberikan sensasi segar yang ditimbulkan oleh kafein yang dipadu dengan rasa teh melati yang khas.

Mungkin dari kebiasaan inilah tumbuh kecintaanku akan minuman berkafein. Meskipun kecintaanku pada kopi baru muncul ketika aku SMA, namun kebiasaan rutin minum teh inilah yang mungkin menjadi awal kecanduanku.

Ketika SMA, aku menjadi perantau yang melanjutkan jenjang pendidikan di kota yang cukup jauh dengan kota kelahiranku. Selama tiga tahun jadi perantau di Yogyakarta, aku sudah tidak begitu sering lagi minum teh dipagi hari. Maklum, tinggal di kos sendirian membuatku harus disibukkan dengan keperluanku sendiri tiap pagi, mulai dari membeli makanan untuk sarapan, hingga kadang-kadang mencuci dan menyetrika baju.

Akan tetapi, waktu SMA ini aku mulai agak sering minum kopi, walaupun tidak sesering sekarang ini. Tiap sabtu malam, entah kenapa aku selalu merasa ingin menyeduh kopi.Waktu itu yang masih jadi favoritku adalah kopi instan kelas "ringan" seperti Good Day dan Kopiko Brown Coffee. Waktu itu aku belum mengenal kopi-kopi premium yang dibuat menggunakan mesin Espresso, dan kurang menggemari kopi hitam.

Kebiasaan ini berlanjut sampai sekitar satu tahun kuliah. Aku masih tidak begitu sering ngopi seperti sekarang. Bagiku saat itu, kopi hanya minuman yang aku nikmati sekali-kali di akhir pekan karena tubuhku saat itu masih sensitif kafein: ngopi jam enam sore bisa membuatku terjaga sampai pukul dua pagi. Daripada ambil resiko terlambat kuliah gara-gara begadang, lebih baik minum kopi hanya ketika akhir pekan saja.

Tahun kedua kuliah, aku mulai butuh ngopi. Pasalnya, banyak matakuliah saat itu mengharuskanku untuk melahap banyak bacaan dan membuat esai tentangnya. Alhasil, seringkali minuman hitam itu aku pakai untuk menjadi semacam ramuan yang membuatku tetap terjaga demi tugas. Saat itu juga, aku mulai kecanduan kopi sampai sekarang.

Kalau dulu aku hanya ngopi seminggu sekali, mulai tahun itu aku mulai harus minum kopi setidaknya satu cangkir per hari. Kalau dulu yang aku nikmati hanya kopi-kopi kelas teri yang dijual seribu rupiah per sachet, saat ini malah aku lebih menyukai kopi hitam pekat, bukan lagi kelas instan. Aku juga mulai menjajal espresso-based coffee yang, meskipun harganya agak mahal, mampu membuatku lumayan ketagihan.

Bahkan akhirnya aku pun berencana membuka kedai kopiku sendiri.

* * * 

Bagiku, kopi bukan hanya sekedar minuman manis berperisa seperti sirup atau susu. Bagiku, kopi sangat erat hubungannya dengan aktivitas batin manusia karena kafein yang dikandungnya mempu merangsang otak untuk lebih bekerja.

Konon, dari yang pernah aku baca, kopi dahulu kala digunakan oleh kaum sufi agar mereka mampu dan kuat berzikir semalaman. Kopi juga seringkali digunakan oleh para intelektual untuk merangsang otak mereka agar mampu bekerja, membaca atau menulis. Tak heran, seringkali kita temui orang-orang yang menulis di warung kopi, atau bahkan warung kopi yang merangkap tempat diskusi.

Kopi, dalam sejarahnya, juga menjadi jembatan kedua budaya yang seringkali berbenturan, yaitu budaya Eropa dan Arab/Islam. Dalam sejarahnya, konon orang Eropa pertama kalimengenal kopi dari perbekalan pasukan Turki yang saat itu gagal menaklukkan kota Vienna. Bahkan, kopi, yang menjadi sumber energi bagi para pecinta Tuhan agar kuat menyebut namaNya semalaman, pada akhirnya juga mencapai Vatikan.  

Ada sebuah anekdot yang cukup menggelitik yang konon datangnya dari Paus Clement VII. Kopi yang saat itu dianggap sebagai "minuman orang kafir" atau "minuman setan" di daratan Eropa akhirnya sampai juga kehadapan sang paus. Ketika ia mencicipi secangkir kopi, beliau pun berujar

"Wah, minuman setan ini enak juga. Kita mesti mencurangi para setan itu dengan membaptis minuman mereka ini!"

Anda tersenyum? Sama, saya juga. Kononnya, paus Clement VIII membaptis kopi dan sejak saat itu popularitasnya mulai menyebar ke daratan Eropa.

Entah anekdot di atas mengandung kebenaran ataupun tidak, yang jelas sampai sekarang kopi menjadi minuman yang bisa dikatakan paling populer di dunia. Ia bisa dinikmati kapan saja, pagi sampai malam hari, dan dengan cara apa saja: espresso, Vietnam drip, tubruk, a la Turki, dll.

Namun bagiku, ia bukan sekedar minuman. Ia adalah energi. 
Rabu, 25 Maret 2015 0 komentar

The Age of [Unnecessary] Communication

Zaman sekarang, sepertinya memiliki beberapa akun media sosial, aplikasi perpesanan, dan piranti-piranti yang mempermudah penggunaannya bukan lagi perkara pilihan, tapi sudah masuk ranah kelaziman, bahkan kewajiban.

Sekitar dua tahun lalu, ketika aku memutuskan untuk tak lagi memakai telepon genggam warisan bapakku dan membeli telepon genggam sendiri, aku lebih memilih telepon genggam sederhana yang cukup untuk sekedar menelepon atau berkirim pesan singkat. Maka pilihanku jatuh kepada Nokia Asha 305, telepon genggam bermodel candy bar dengan warna dominan biru muda. Sebenarnya kalau bicara masalah biaya, uang yang aku punya saat itu cukup untuk membeli telepon genggam Android dengan berbagai fitur-fitur perpesanan yang bermacam-macam, entah WhatsApp, Line, BBM, dan berbagai aplikasi lainnya yang perkembangan pasarnya sangat pesat. Namun dasar aku ini aneh, aku tak seperti banyak orang lainnya yang gandrung menghabiskan waktu dengan menatap layar piranti komunikasi sambil bercakap dengan orang nun jauh diluar sana. Aku lebih menyukai jika waktuku untuk mambaca, menonton film, berkontemplasi, atau bermeditasi tidak terganggu oleh notifikasi-notifikasi yang membuat telepon genggam diselingi bunyi "pling!" untuk satu obrolan yang tidak penting.

(Aku ingat pernah memasang aplikasi Line di telepon genggamku itu satu ketika. Ya Tuhan! Betapa berisiknya...)

Begitupun dengan akun-akun media sosial. Sejauh yang aku ingat, hanya tiga akun media sosial yang aku gunakan: Facebook, Twitter, dan Tumblr. Memang ada beberapa akun lain yang pernah aku buat, seperti Muxlim, Millat Facebook, dan Google+. Tapi akun-akun itu sudah lama sekali tak kuurus, dan yang benar-benar aku pakai tinggal yang tiga itu. Aku memakai Facebook karena sudah terlanjur mencandu bagiku. Tumblr aku pilih sebagai sarana blogging karena interface-nya yang jauh lebih mudah daripada Wordpress atau Blogger. Kalau Twitter sebenarnya dulu aku mendaftar hanya demi kepentingan akademik, supaya bisa memantau Jarkom dari himpunan mahasiswa jurusanku, tapi aku kini jarang memakai Twitter karena fiturnya yang terbatas. 140 karakter terlalu terbatas untuk gaya tulisanku yang cenderung mendetail.

(Selain itu, alasan mengapa aku kini menghindari Twitter adalah karena menurutku Twitter itu isinya tidak begitu layak baca dan trending topiknya cenderung bodoh, seperti luahan perasaan galau yang alay; Twit war kurang kerjaan antara Joko Anwar dan Marissa Haque; serta penggiringan opini publik yang tidak kritis dan cenderung ikut-ikutan semacam hashtag #SaveHajiLulung.)

Tapi kadang aku tidak bisa mengerti betapa gandrungnya orang Indonesia, yang oleh Al Jazeera sempat dijuluki The Social Media Capital, dengan aplikasi media sosial dan perpesanan. Satu orang pengguna media sosial di Indonesia bisa memiliki sampai lima akun atau lebih di aplikasi perpesanan dan media sosial. Padahal, kalau dipikir-pikir teman-temannya di akun-akun media sosial dan aplikasi pertemanannya ya itu-itu juga. Sering aku melihat orang yang menyebarkan ID aplikasi pertemanan dan/atau perpesanannya di beranda Facebook dan meminta orang-orang yang menjadi temannya di Facebook untuk menambahkannya sebagai teman di aplikasi pertemanan dan/perpesanan yang berbeda. Bukankah, kalau dipikir-pikir, ini absurd?

Kalau ujungnya hanya meminta teman-teman kita di Facebook untuk menambahkan akun-akun kita di lima akun media sosial lain, untuk apa punya banyak-banyak akun kalau teman-temannya itu-itu juga?

Keherananku tak berhenti sampai di sini. Aku juga heran dengan orang-orang yang lebih memilih untuk menekuri layar piranti elektroniknya ketika dia sedang berada di sekitaran orang-orang yang mereka sayangi, yang meraka kenal, dan yang mereka bisa ajak berkomunikasi. Fenomena aneh seperti ini sering aku jumpai ketika aku sedang berada di tempat-tempat makan. Kadang-kadang aku melihat orang yang duduk semeja dengan ditemani sahabat, kerabat, atau pasangan, tapi matanya sibuk menatap layar yang menyala terang, sambil cekikikan dan memainkan jari-jemarinya di layar sentuh. Untuk apa, kalau begitu, makan sambil ditemani seseorang kalau pada akhirnya lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada orang-orang di dunia virtual?

Entahlah, mungkin curahan pikiranku di atas terdengar nyinyir, terdengar sinis. Tapi sejujurnya, menurutku penggunaan aplikasi pertemanan dan perpesanan di Indonesia sudah mencapai tingkat eksesif. Orang tidak lagi peduli untuk menyimpan kehidupannya untuk dirinya sendiri, terutama hal-hal yang sifatnya pribadi. Mulai dari apa yang kita makan, apa yang kita lakukan, dengan siapa, apa yang kita rasakan, semuanya kita bagikan dengan orang-orang di sekitar. Ruang untuk provasi semakin menyempit, rasa haus dan lapar akan  perhatian berupa like atau komentar dari orang lain menjadi kebutuhan yang bagai menghimpit.

Di sisi lain, secara sadar atau tidak sadar, kita menjadi semacam konsumen untuk kehidupan orang lain. Kita menghabiskan banyak waktu untuk menekuri tulisan di laman maya untuk membaca apa yang orang pikirkan, foto makanan meraka, apa yang sedang mereka rasakan, dsb. Apa signifikansinya bagi kehidupan pribadi  kita sendiri, padahal?

Tunggu, aku sama sekali tidak sedang merutuki kemajuan zaman. Bagiku, semua itu ada manfaat yang cukup besar. Aku sendiri terhubung dengan banyak orang yang sudah lama tidak aku jumpai lewat Facebook, begitu juga dengan Varsity baru yang aku beli secara online lewat sebuah grup jual beli di dunia maya, atau konten-konten inspiratif yang sering aku baca lewat Tumblr. Semua itu baik, semua itu bagus.Namun, aku pikir ada kalanya hingar-bingar teknologi ini sudah nyaris hilang kontrol.

Zaman sekarang, orang rela menghabiskan berjam-jam demi memantau status, atau postingan. Kadang-kadang, ketika feedback  yang didapatkan berupa komentar yang tidak diharapkan, orang bisa bertengkar dan berdebat dengan sesama pengguna piranti dunia maya. Tidak jarang, mereka bertengkar dengan orang yang sama sekali tidak mereka kenal. Belum lagi ketika media sosial menjadi ajang untuk bersumpah serapah, saling menghina dan menyakiti., dll.

Namun begitu, masalah yang paling krusial dalam hal penggunaan media sosial adalah masalah teralihkannya lebih banyak fokus ke dunia maya. Alih-alih terfokus pada kehidupan mereka yang riil, orang zaman sekarang sepertinya lebih sibuk memikirkan bagaimana bisa menampilkan citra diri yang paling baik di dunia maya. Seolah-olah, mengabarkan kepada dunia tentang kehidupan kita jadi lebih penting daripada menjalani kehidupan itu sendiri.

Begitupun dalam interaksi, sepertinya kini tinggal sedikit ruang yang tersisa untuk menyendiri. Semua orang sibuk berkomunikasi melalui berbagai piranti, meskipun terkadang tidak begitu penting atau mendesak. Pemandangan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan mata lekat pada layar telepon genggam atau layar Loh besi menjadi hal yang wajar. Ironisnya, hal-hal seperti ini jamak juga terjadi di tengah-tengah perkumpulan sosial, di mana para anggotanya nampaknya lebih menikmati menekuri layar daripada berinteraksi satu sama lain.

Ah, aku ini memang aneh dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman.
 
;